Meski bukan orang Betawi asli, Nia Febriana terpanggil untuk melestarikan budaya Betawi. Melalui Romlah, ia berupaya mengenalkan
kembali kuliner khas Tanah Betawi.
Salah satu
kegiatan wajib yang harus dilakukan saat bepergian ke luar daerah adalah
membeli oleh-oleh. Umumnya makanan atau kue-kue khas daerah dijadikan buah
tangan favorit karena setiap daerah di Indonesia pasti memiliki makanan khas
tradisional masing-masing. Mendapatkannya pun terbilang mudah, banyak dijual di sentral penjualan oleh-oleh.
Kondisinya
tentu berbeda ketika melancong ke Jakarta. Mereka yang datang ke Ibukota untuk kunjungan kerja atau sekadar pelesiran akan sulit mencari oleh-oleh
makanan tradisional khas Betawi karena jarang yang menjual. Kesulitan yang sama
dirasakan pula oleh Nia
Febriana ketika mencari oleh-oleh untuk pulang kampung atau saat ke luar kota.
Dari
kebingungan akan kebutuhan oleh-oleh tersebut, Nia bersama suaminya, Sugeng Riyadi, mendapatkan ide untuk merintis usaha
oleh-oleh khas Jakarta, dengan mendirikan toko Roemah Oleh-Oleh (Romlah) pada tahun 2015. “Selain berbisnis, kami juga ingin
melestarikan dan mengenalkan kembali budaya
Betawi yang selama ini sudah tergeser,” ujar Nia.
Saat
memulai bisnis tersebut Nia mengeluarkan modal awal sekitar Rp5 juta untuk
memesan makanan dan minuman tradisional Betawi dari tetangganya yang penduduk
asli Betawi dan UKM sekitar toko Romlah. Kemudian, makanan dan minuman tersebut diberi kemasan modern agar menarik dijadikan
buah tangan.
“Romlah
menyediakan makanan dan minuman Betawi jadul yang jarang ditemui, seperti biji
ketapang, akar kelapa, sagon bubuk, dodol, kue satu, kembang goyang, dan bir pletok. Termasuk
beragam suvenir yang mengangkat budaya Betawi, di antaranya
batik betawi, kaus, gantungan kunci, tas, dan magnet kulkas,” sebut Nia.
Seiring waktu, produk pun terus berkembang baik dari kategori
makanan dan minuman maupun suvenir dengan jumlah mencapai 80 SKU. Saat ini Romlah telah menggandeng
sekitar 20 UKM Betawi di bidang makanan dan minuman, sedangkan produk suvenir
diproduksi sendiri.
“Kami
berkomitmen untuk menghadirkan produk-produk baru yang inovatif. Setiap bulan
minimal lima produk baru yang keluar. Misalkan, akar
kelapa hitam. Umumnya kue ini berwarna putih kecoklatan. Selain itu ada biji
ketapang rasa cokelat,” ucap Nia.
Produk yang
ditawarkan Romlah cukup terjangkau, mulai Rp10.000–Rp60.000 untuk makanan dan
minuman, sedangkan harga paket mulai Rp110.000–Rp175.000. Khusus produk
suvenir dibanderol dari Rp10.000 hingga Rp160.000.
“Romlah sudah memiliki izin edar. Artinya,
produk Romlah layak konsumsi dan lulus standar kesehatan pangan. Sebagian besar
produk makanan dan minuman tanpa pengawet sehingga lebih aman buat kesehatan,
dan insya Allah
produk Romlah semuanya halal. Untuk sertifikat halal MUI sendiri sedang
berproses pendaftaran,” ungkap dia.
Raup Ratusan Juta
Rupiah
Seperti
cerita wirausaha lainnya, Nia juga mengalami kesulitan memasarkan produk di awal merintis bisnis oleh-olehnya. Bahkan di bulan-bulan
pertama, penjualannya masih di bawah angka Rp1 juta. Rendahnya
omzet yang didapat lantaran masih mengandalkan rumah tinggalnya yang disulap
menjadi toko “Romlah” kecil-kecilan, dan kurangnya aktivitas pemasaran yang dilakukan.
Sadar
pasarnya terbatas jika hanya mengandalkan toko, Nia mulai merambah pemasaran online melalui website dan media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan
WhatsApp.
Bahkan masuk ke market place besar, seperti Tokopedia dan Bukalapak, termasuk layanan-antar makanan online,
Go-Food dan Grab Food.
Hasilnya
cukup efektif, setelah tiga bulan berdiri hingga sekarang omzetnya terus
merangkak naik. Angkanya telah mencapai Rp100 juta, bahkan di bulan Ramadan dan musim Lebaran
angkanya bisa melonjak hingga 200%. Penjualan masih didominasi kategori makanan
dengan komposisi 80%, dan sisanya 20% dari kategori suvenir.
Tak hanya
gencar di ranah online, kini Romlah
juga telah melebarkan sayap dengan membuka cabang di Harmoni Exchange Mall.
Menurut Nia, toko fisik masih sangat diperlukan, sebab
masih berkontribusi cukup besar sekitar 30% dari total penjualan, meski masih di bawah penjualan melalui website dan media sosial yang mencapai
50%.
Market place menyumbang sekitar 8%, sedangkan layanan-antar
makanan online sebesar 12% dari
penjualan. “Nilai transaksi di toko masih jauh lebih tinggi ketimbang di online. Satu pengunjung bisa melakukan
transaksi dari Rp500.000–Rp2 juta. Sementara di online
hanya sekitar Rp250.000,” bebernya.
Agar lebih dekat dengan masyarakat Betawi dan dikenal pelanggan, Nia aktif mengikuti pameran yang berhubungan dengan kebudayaan Betawi, seperti Festival Condet, Festival Kemang, dan Festival Cipete Vaganza. Ia juga menempatkan kultur khas Betawi dalam desain tokonya, mulai ornamen hingga interior.
Agar lebih dekat dengan masyarakat Betawi dan dikenal pelanggan, Nia aktif mengikuti pameran yang berhubungan dengan kebudayaan Betawi, seperti Festival Condet, Festival Kemang, dan Festival Cipete Vaganza. Ia juga menempatkan kultur khas Betawi dalam desain tokonya, mulai ornamen hingga interior.
Yang tak kalah menarik, dalam interaksi dan komunikasi baik di toko maupun di media sosial, Romlah menggunakan bahasa Betawi. Termasuk menghadirkan ikon Mpok Romlah, sosok perempuan Betawi yang nyablak namun memiliki jiwa sosial tinggi dan memegang teguh norma-norma. “Mpok Romlah menjadi identitas kami dalam pelayanan. Gaya bahasanya ceplas-ceplos, tapi tetap sopan,” pungkasnya.
(Moh. Agus Mahribi, telah dimuat di Majalah MARKETING Edisi Agustus 2017)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar