Merek Brodo, sepintas seperti nama sebuah merek asal Italia. Tapi, siapa sangka nama yang disematkan pada produk sepatu pria ini merupakan merek lokal yang dibuat di Cibadayut. Kini penjualannya rata-rata mencapai 2.000 pasang sepatu setiap bulan. Bagaimana kisah sukses membangun merek Brodo?
Sering kali kita temukan entrepreneur yang sukses membangun bisnis dari hobi. Begitu pula dengan Muhammad Yukka Harlanda yang gemar mengoleksi sepatu. Pengalaman kesulitan mendapatkan sepatu kulit ukuran yang diinginkan, belum lagi harga yang relatif mahal, memberinya ide untuk membuat sepatu sendiri.
Tak berhenti di situ, bak oasis
di tengah sahara, pengalaman tersebut menginspirasi Yukka untuk mengembangkan kreativitasnya
menjadi bisnis sepatu khusus kaum adam. Bermodal sebesar Rp7 juta hasil
patungan bersama rekan bisnisnya Putera Dwi Karunia, mereka menyambangi perajin
sepatu di Cibaduyut, Bandung,
yang terkenal sebagai sentra sepatu murah.
“Kami memulai bisnis
sepatu sejak tahun 2010 lalu. Pemikirannya sederhana, kalau membuat sepatu dengan
desain dan merek sendiri, kemungkinannya dapat dijual dengan harga yang lebih
terjangkau,” kata pria yang saat memulai bisnis masih kuliah di Institut
Teknologi Bandung, jurusan Teknik Sipil.
Dari modal tersebut, diperoleh 40
pasang sepatu dengan empat desain yang referensinya didapat dari
internet. Kemudian, produk mulai
dipasarkan kepada orang-orang terdekat, mulai dari teman, sanak saudara, bahkan
orangtua sendiri,
dengan merek dagang Brodo. Meski sebenarnya penyematan merek sama sekali
tidak ada kaitannya dengan produk yang dihasilkan.
“Pemberian nama Brodo terbilang
konyol, karena idenya diambil dari adegan memasak sebuah komik. Kata ‘brodo’ yang dalam
bahasa Italia berarti kaldu ayam, merupakan bumbu dasar dari beberapa masakan
Italia. Prinsipnya, jika brodo-nya
tidak enak,
makanan yang dihasilkan pun tidak enak. Begitu juga dengan sepatu
Brodo, bila berbusana sepatunya tidak bagus, maka ke atasnya tidak bagus pula,” terang
Yukka.
Seperti kebanyakan cerita sukses
lainnya, Brodo tidak langsung mudah diterima konsumen. Yukka masih sangat ingat ketika
mereknya sulit terjual, bahkan di bulan pertama saja hanya terjual empat
pasang. Namun, ketika mencoba menawarkan desain sepatu tersebut melalui
jejaring sosial, hasilnya ternyata di luar dugaan. Banyak konsumen
yang tertarik dan memesan sepatu ini.
“Sepatu Brodo dibanderol dengan
harga Rp195.000 sampai
Rp595.000.
Segmen yang dibidik Brodo di rentang usia yang cukup lebar, antara 18–40 tahun dari kalangan
kelas menengah yang menyukai produk-produk berkualitas guna memenuhi gaya hidup
dan fashion
mereka,” ungkap Yukka.
Fokus
di Online
Ketika memulai bisnis, Yukka
melakukan segala aktivitas pemasaran baik offline maupun online untuk
meningkatkan brand awareness Brodo.
Namun, seiring berjalannya
waktu ia pun memilih untuk fokus di ranah online. “Tahap awal memasarkan, kami
berupaya memasukkan produk-produk Brodo ke seluruh distro di Indonesia, maupun department store untuk menggenjot brand awareness dengan mempromosikan ke
pemilik distro ataupun mengikuti kegiatan pameran di kota-kota besar di
Indonesia,” papar dia.
Sayang, meski akhirnya Brodo sukses
memajang produk-produk tersebut di gerai distro dan department store, hasilnya tidak memuaskan seperti yang diharapkan. Hal ini lantaran
pertumbuhan penjualannya tidak signifikan dibandingkan penjualan online melalui
website dan Facebook. Secara
jumlah penjualan offline memang lebih tinggi dibandingkan online; sebaliknya
dari segi profit,
pemasaran online masih jauh lebih bagus ketimbang pemasaran offline.
“Saat ini pemasaran online
berkontribusi besar sekitar 90% dari total penjualan. Konsumen dapat membeli
setiap produk Brodo di www.bro.do
yang domainnya dibeli dari Republik Dominika, sedangkan untuk media sosial
konsumen dapat mengunjungi Facebook: brodobrodo,” sebut Yukka.
Pertimbangan lain untuk fokus ke
online, karena melihat produk-produk Brodo sudah mulai ditiru, mulai dari
desain sampai merek. Untuk memudahkan konsumen membedakan produk yang asli dan
palsu, Brodo hanya menjual di toko online
dan gerainya sendiri. “Di sini kami lebih mengeksklusifkan
distribusi pemasarannya. Rata-rata penjualan Brodo mencapai 2.000 pasang per
bulan,” tambah dia.
Kinclong-nya penjualan
Brodo memang tak terlepas dari dua prinsip yang diusung selama ini. Pertama, great design, yaitu setiap desain sepatu yang dihasilkan harus
terkesan simpel dan unik, sekaligus terjangkau dengan kualitas dan detail yang
menarik. Jumlah sepatu yang ditawarkan sudah beragam jenisnya seperti Signore,
Vintage, Fontana, Uno,
dan Alpha dengan outsole yang menarik
berupa motif nusantara ataupun batik parang.
Kemudian, kedua, great service dengan memberikan layanan yang mampu menjamin
kepuasan konsumen. Tak banyak pelaku bisnis online yang berani seperti Brodo
memberikan layanan penukaran sepatu secara gratis jika ukuran tidak sesuai, walaupun
sudah dipakai.
Layanan
lainnya,
Brodo memiliki layanan servis jika sepatu rusak.
Sandhy
Sondoro
dan Glenn
Fredly Ikut Memasarkan
Celebrity
endorser dipandang
memiliki keunggulan atraktif yang membedakannya dari individu lain dan mampu
memengaruhi konsumen untuk menggunakan produk yang dipakainya, dan identik
dengan merek itu sendiri. Ini pula yang dilakukan Yukka. Tanpa
pengetahuan mengenai aturan brand endorser,
dengan percaya diri ia mencoba merangkul
musisi papan atas, Sandhy Sondoro
dan Glenn
Fredly untuk turut memasarkan
produknya.
“Kerja samanya sederhana,
tanpa kontrak eksklusif.
Artinya selama Sandhy Sondoro
mau menggunakan produk-produk Brodo, kita akan memberikan kepadanya. Ketika
melihat Sandhy Sondoro
menggunakan sepatu Brodo, siapa sangka,
ternyata Glenn
Fredly pun tertarik menggunakan sepatu ini,” jelas dia.
Soal aktivitas pemasaran yang
akan dilakukan dalam waktu terdekat,
Yukka mengatakan akan memanfaatkan para celebrity endorser untuk menampilkan performa mereka di suatu
panggung, tetapi penonton yang datang harus menggunakan sepatu Brodo ataupun
produk lainnya. Selain itu, rencana mendatang akan dibuat video koleksi
khusus Sandhy Sondoro
dengan produk Brodo. Pasalnya, selain sepatu, Brodo juga
sudah melebarkan sayap bisnis ke produk dompet, tas, dan pakaian
khusus pria, karena adanya permintaan dari konsumen. (Majalah MARKETING/Moh. Agus Mahribi)
Ayo bergabung dengan bolavita , hanya disini yg bisa depo via
BalasHapusOvo dan tidak ada jam off line nya mempermudah member tidak
perlu ke ATM lagi... dengan promo2 yg sangat menarik tanpa ribet
langsung diberikan ^^ sabung ayam jago
info lbh lanjut :
whatup : +628122222995