Kamis, 07 September 2017

Teh Kelas Dunia dengan Sentuhan Cita Rasa Lokal

Savis sukses memikat para penikmat teh premium. Merek asli Indonesia ini mampu menghasilkan teh yang sangat unik dan memberikan cita rasa yang sangat spesial. 




Selama ini kebanyakan teh premium yang beredar dan dikonsumsi masyarakat Indonesia merupakan produk impor. Ironisnya, produk tersebut menggunakan bahan baku asal Indonesia. Daun teh berkualitas hasil perkebunan di Nusantara dikirim ke luar negeri, diolah di sana, kemudian dikemas menjadi teh premium, diberi merek, dan dipasarkan kembali di sini dengan harga selangit. 

Di tengah serbuan produk impor yang kian masif, Savis mencoba meramaikan pasar teh premium. Merek lokal di bawah PT Ara Savis Sejahtera, produsen teh asal Sukoharjo, Jawa Tengah ini menawarkan sensasi teh kelas atas. 

Lily Gunawan, CEO PT Ara Savis Sejahtera, menuturkan Savis berkiprah di pasar teh premium sejak tahun 2014. Didorong oleh antusiasme untuk mengangkat keanekaragaman teh yang ada di Indonesia serta menjunjung kearifan lokal. “Savis mempersembahkan beraneka ragam teh kelas dunia dengan sentuhan cita rasa lokal,” katanya.

Menjadi pendatang baru di industri teh premium tentu bukanlah perkara mudah. Namun, berbekal pengalaman dan pengetahuan seluk-beluk industri teh nasional—khususnya teh tradisional, Lily meyakini Savis akan mendapat tempat di hati penikmat teh di Tanah Air dan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Meski tergolong pemain baru, Savis memiliki benang merah dengan merek legendaris ‘Teh Kepala Djenggot’ yang sudah menancapkan kukunya di pasar teh nasional sejak tahun 1951. Pengalaman inilah yang menjadi salah satu modal kami untuk mampu bersaing dengan merek premium lainnya,” ungkap dia. 

Lily menambahkan, sejatinya sebagai produk yang dihasilkan di negara sendiri, pastinya kualitas teh Savis lebih terjaga dan tak kalah dari teh impor karena menggunakan bahan-bahan mutu terbaik yang langsung diambil dari alam Indonesia. Savis adalah satu-satunya produk yang dihasilkan produsen teh premium di Indonesia yang mempunyai latar belakang pabrikan lebih dari 65 tahun, sedangkan merek lain pada umumnya hanya dikemas ulang (repacking).

“Savis didesain menawarkan keistimewaan yang lebih dari produk premium lainnya. Bagi kami premium adalah satu kesatuan rangkaian mulai dari pemilihan bahan, proses, kemasan, rasa, dan penyajiannya yang lebih baik. Savis merupakan produk yang menggabungkan tradisi, seni, dan teknologi untuk mendukung gaya hidup sehat dan alami,” ucap Lily. 

Selain ingin mengangkat pamor teh produksi dalam negeri, pertimbangan Savis merambah ke bisnis teh premium karena melihat peningkatan kesadaran (awareness) dan kebutuhan konsumen terhadap produk berkualitas, termasuk teh sebagai minuman yang banyak dikonsumsi masyarakat.

“Masuk ke bisnis teh premium juga menjaga kesinambungan industri teh sebagai industri yang berakar dari warisan turun-temurun dan menjadi budaya masyarakat. Harapannya, tradisi minum teh di generasi mendatang tidak hilang dan mereka bangga mengonsumsi produk dan merek asli Indonesia, yang selama ini diasumsikan sebagai teh berkualitas rendah dan murah,” jelas Lily. 

Diferensiasi Jadi Keunggulan
Lily mengakui kompetisi di bisnis teh premium sangat tinggi. Alhasil, dibutuhkan diferensiasi yang kuat untuk memenangkan persaingan. Strategi ini pula yang diterapkan Savis dengan menciptakan banyak varian teh yang unik dan khas. Disesuaikan dengan karakter Indonesia, namun dapat dinikmati semua pencinta teh di seluruh dunia. 

Hampir semua jenis teh diproduksi Savis, mulai dari teh tradisional, teh putih (white tea), teh hitam (black tea), teh hijau (green tea), hingga teh oolong (oolong tea). Setiap jenis teh memiliki ragam varian, baik single origin tea untuk penikmat teh murni atau blend tea, teh racikan berbahan campuran khusus berupa buah-buahan maupun aromatik yang kaya rasa.

Keunikan yang ditawarkan, Savis menggunakan aromatik khas Indonesia, seperti daun pandan dan sereh, rempah-rempah seperti kayu manis, jahe, kapulaga, dan cengkeh. Savis satu-satunya teh yang memiliki racikan otentik dan unik yang tidak ada di pasaran, seperti Teh Krampoel—teh dengan sensasi irisan jeruk terapung yang hanya bisa dijumpai dalam wedangan di Kota Solo dan Yogyakarta—yang sekarang dapat dinikmati kapan pun dan di mana pun.

Kemudian ada varian Teh Mangga Kweni yang harum khas Indonesia, dan Royal Princess, satu-satunya teh melati tradisional yang menggunakan resep kuno dan alami. Teh dicampur dengan kuncup melati murni yang diproses lebih dari satu bulan sehingga menghasilkan wangi lembut seperti parfum mahal. Berbeda dengan teh melati yang ada di pasaran, diproses dengan flavor tambahan yang menghasilkan aroma terlalu tajam dan cepat hilang.

Savis juga memiliki White Tea Pomegranate dengan bahan teh putih yang memiliki antioksidan tinggi dan baik untuk kecerdasan otak anak. Selain itu ada Sekar Kedhaton, racikan eksotik ala keraton Solo dengan campuran teh putih premium, teh hijau yang berasal dari pohon teh yang berusia ratusan tahun, rempah-rempah eksotik Indonesia, dan kuncup bunga mawar yang aroma seduhannya membawa kita pada kecantikan putri keraton Jawa di masa lalu. Ada pula blue tea, teh berwarna biru eksotis yang dapat dicampur sebagai cocktail dan mocktail yang sangat cocok untuk kawula muda.

Tak hanya produk yang unik, Savis juga berkomitmen menciptakan produk berkualitas yang memiliki nilai lebih bagi kesehatan. Saat ini konsumen makin cerdas, mereka tidak hanya melihat kemasan tetapi juga rasa dan manfaat untuk menunjang gaya hidup modern, sehat, dan alami. Dalam memproduksi, Savis memiliki tenaga-tenaga ahli yang didukung oleh mesin produksi berteknologi dan standar mutu yang tinggi. 

Menurut Lily, umumnya teh celup yang beredar di pasaran menggunakan bahan tidak bebas klorin dan stapples (logam), yang berbahaya bagi kesehatan, apalagi jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama. Berbeda dengan Savis yang bebas dari keduanya. “Konsumen dapat menikmati teh Savis tanpa gula karena rasanya tidak pekat. Kami ingin mengedukasi konsumen untuk hidup sehat mengurangi konsumsi gula sebagai salah satu faktor tertinggi penyebab penyakit mematikan menurut penelitian terkini dari para ahli,” jelas Lily. 

Selain kemasan standar, Savis memiliki kemasan ekonomis untuk segmen food service dengan menghilangkan bagian-bagian yang tidak perlu, tetapi tetap mempertahankan kualitas premiumnya. “Savis menyediakan tester gratis untuk hotel, restauran, kafe kelas premium. Bagi konsumen yang ingin mencoba kenikmatan teh premium Indonesia, tersedia paket seharga Rp500.000 hanya dengan membayar Rp150.000,” pungkasnya. 


Moh. Agus Mahribi (MM.02.2017)

Rabu, 06 September 2017

Mengais Ceruk Lewat Lapak Produk Sehat

Lemonilo mencoba mengeksplorasi tren hidup sehat dengan menyediakan produk sehat dan natural yang terjangkau.



Industri e-commerce yang telah dikuasai pemain besar membuat banyak startup lokal pilih mengembangkan layanan e-commerce yang menyasar pasar khusus atau niche market. Secara khusus e-commerce model ini memberikan penawaran lebih kepada pembeli dengan menghadirkan produk unik, beda, dan menarik serta memberikan layanan pelanggan yang istimewa.

Satu lagi e-commerce “niche” yang ikut meramaikan persaingan adalah Lemonilo.com, market place yang mempertemukan penjual dan pembeli produk-produk sehat serta natural. “Lemonilo merupakan healthy lifestyle ecosystem yang terdiri dari tiga pilar, yakni market place; produk sehat dan natural; dan komunitas hidup sehat,” kata Shinta Nurfauzia, Co-founder Lemonilo.com.

Shinta bercerita, awal mula mendapatkan ide mendirikan market place Lemonilo lantaran melihat adanya kebutuhan orang sakit atau ibu hamil serta peningkatan kesadaran masyarakat atas manfaat dari mengonsumsi produk sehat dan alami sehari-hari. Namun, mendapatkan produk-produk sehat dan natural di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Selain sulit didapat, selama ini identik dengan harga mahal. 

Lemonilo hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menjual produk-produk yang telah melalui proses seleksi menyeluruh dan dipastikan bahan-bahan yang digunakan sehat, natural, dan aman. Sekaligus memastikan bahwa pola hidup sehat bisa dilakukan sedini mungkin dengan cara yang mudah dan harga terjangkau. 

“Produk yang ditawarkan Lemonilo harganya cukup terjangkau, karena didapatkan langsung dari produsen sehingga bisa lebih murah 20%─50% dari pesaing. Segmen yang dibidik usia 18─55 tahun, khususnya kaum milenial, eksekutif muda, dan ibu rumah tangga,” ujar Shinta. 

Ada dua kategori produk yang dimiliki Lemonilo, yakni “Food” dan “Beauty & Body”. Dalam kategori Food, beragam produk ditawarkan mulai dari bahan makanan, seperti beras, mi instan, bumbu masak, gula, bahan kue dan tepung sehat. Pelanggan juga bisa mendapatkan camilan, sayuran dan buah, minuman dan makanan cepat saji. 

“Kami juga memiliki layanan katering yang menawarkan menu sehat dan paket menu untuk pemesanan harian atau bulanan. Produk makanan Lemonilo dijual mulai dari Rp9.500, sedangkan catering mulai Rp170.000 hingga Rp2.970.000 per paket,” tutur Shinta. 



Selain makanan dan minuman, Lemonilo juga menawarkan produk-produk perawatan wajah, perawatan tubuh, perawatan rambut, dan aromaterapi di kategori Beauty & Body. Saat ini produk yang dijual di situs Lemonilo sebesar 60% merupakan produk lokal yang berasal dari merchant, seperti UKM, koperasi petani, dan petani. 

“Sisanya sebesar 40% berasal dari importir, namun kami memiliki kebijakan hanya mengimpor pada saat tidak ada produk yang ekuivalen dengan produk lokal. Saat ini ada sekitar 160 merchant yang telah bergabung di Lemonilo,” sebutnya. 

Tak hanya menyediakan produk yang menarik, Lemonilo pun menyediakan fitur-fitur yang membantu pelanggan untuk menemukan dan mendapatkan produk yang dibutuhkan. Salah satu fitur yang menjadi andalan yaitu “Manfaat Produk”. Pengunjung dapat mencari produk berdasarkan rendah kalori dan gula, sertifikat halal, ramah lingkungan, berasal dari pemberdayaan wanita, UKM dan petani.

Kendati baru diluncurkan pada Oktober 2015 lalu, Shinta mengaku Lemonilo mendapatkan respons yang baik dari konsumen. Terlihat dari jumlah pengunjung situs yang rata-rata mencapai ratusan ribu per hari, yang sebagian besar berasal dari Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali.

Jadi Ekosistem Gaya Hidup Sehat Terbesar
Dalam memastikan kualitas produk sehat, alami, dan aman, Lemonilo memiliki tim food analyst yang bertugas melakukan pengecekan terhadap bahan pembuatan setiap produk. Sebelum dijual di situs Lemonilo, sebuah produk akan melewati food trial dan analisis yang dilakukan oleh tim tersebut.

“Kami punya 72 daftar bahan makanan yang dilarang untuk masuk ke Lemonilo, sedangkan untuk kategori produk kecantikan dan perawatan tubuh ada sekitar 50 daftar bahan yang dilarang, sesuai acuan FDA Amerika Serikat dan BPPOM,” jelas Shinta. 

Untuk mewujudkan visi sebagai healthy lifestyle ecosystem, Lemonilo akan meluncurkan makanan dan minuman sehat serta alami yang diproduksi sendiri. Meski belum mau membeberkan produk apa saja yang akan diluncurkan, Shinta mengatakan pihaknya telah memiliki 10 produk yang dibutuhkan konsumen dan paling laku berdasarkan penjualan di situsnya.

Dari data tersebut terlihat adanya kebutuhan dari masyarakat untuk mengonsumsi produk sehat. Dengan memproduksi sendiri diharapkan harganya semakin murah. Tujuannya bukan semata berjualan, tapi memiliki misi khusus supaya produk sehat dan alami bisa menjangkau masyarakat secara luas.

Melalui peluncuran produk, Lemonilo juga ingin mengedukasi masyarakat. Nantinya di setiap kemasan akan dicantumkan secara jelas manfaat kesehatan dari produk yang ditawarkan. Harapannya tren hidup sehat di Indonesia bisa dipercepat dan dijangkau oleh semua orang.

Selain edukasi, strategi Lemonilo dalam mengampanyekan pola hidup sehat dilakukan melalui komunitas yang memiliki 50.000 anggota. Banyak komunitas yang telah dirangkul Lemonilo, seperti komunitas gym dan komunitas organic. “Target terbesar kami menjadi ekosistem gaya hidup sehat terbesar di Indonesia,” pungkas Shinta. 


(Moh. Agus Mahribi, MM.08.2017)




Berbisnis Sambil Lestarikan Budaya Betawi

Meski bukan orang Betawi asli, Nia Febriana terpanggil untuk melestarikan budaya Betawi. Melalui Romlah, ia berupaya mengenalkan kembali kuliner khas Tanah Betawi.

Salah satu kegiatan wajib yang harus dilakukan saat bepergian ke luar daerah adalah membeli oleh-oleh. Umumnya makanan atau kue-kue khas daerah dijadikan buah tangan favorit karena setiap daerah di Indonesia pasti memiliki makanan khas tradisional masing-masing. Mendapatkannya pun terbilang mudah, banyak dijual di sentral penjualan oleh-oleh.

Kondisinya tentu berbeda ketika melancong ke Jakarta. Mereka yang datang ke Ibukota untuk kunjungan kerja atau sekadar pelesiran akan sulit mencari oleh-oleh makanan tradisional khas Betawi karena jarang yang menjual. Kesulitan yang sama dirasakan pula oleh Nia Febriana ketika mencari oleh-oleh untuk pulang kampung atau saat ke luar kota.

Dari kebingungan akan kebutuhan oleh-oleh tersebut, Nia bersama suaminya, Sugeng Riyadi, mendapatkan ide untuk merintis usaha oleh-oleh khas Jakarta, dengan mendirikan toko Roemah Oleh-Oleh (Romlah) pada tahun 2015. “Selain berbisnis, kami juga ingin melestarikan dan mengenalkan kembali budaya Betawi yang selama ini sudah tergeser,” ujar Nia.

Saat memulai bisnis tersebut Nia mengeluarkan modal awal sekitar Rp5 juta untuk memesan makanan dan minuman tradisional Betawi dari tetangganya yang penduduk asli Betawi dan UKM sekitar toko Romlah. Kemudian, makanan dan minuman tersebut diberi kemasan modern agar menarik dijadikan buah tangan. 

“Romlah menyediakan makanan dan minuman Betawi jadul yang jarang ditemui, seperti biji ketapang, akar kelapa, sagon bubuk, dodol, kue satu, kembang goyang, dan bir pletok. Termasuk beragam suvenir yang mengangkat budaya Betawi, di antaranya batik betawi, kaus, gantungan kunci, tas, dan magnet kulkas,” sebut Nia.

Seiring waktu, produk pun terus berkembang baik dari kategori makanan dan minuman maupun suvenir dengan jumlah mencapai 80 SKU. Saat ini Romlah telah menggandeng sekitar 20 UKM Betawi di bidang makanan dan minuman, sedangkan produk suvenir diproduksi sendiri.


“Kami berkomitmen untuk menghadirkan produk-produk baru yang inovatif. Setiap bulan minimal lima produk baru yang keluar. Misalkan, akar kelapa hitam. Umumnya kue ini berwarna putih kecoklatan. Selain itu ada biji ketapang rasa cokelat,” ucap Nia.

Produk yang ditawarkan Romlah cukup terjangkau, mulai Rp10.000–Rp60.000 untuk makanan dan minuman, sedangkan harga paket mulai Rp110.000–Rp175.000. Khusus  produk suvenir dibanderol dari Rp10.000 hingga Rp160.000.

“Romlah sudah memiliki izin edar. Artinya, produk Romlah layak konsumsi dan lulus standar kesehatan pangan. Sebagian besar produk makanan dan minuman tanpa pengawet sehingga lebih aman buat kesehatan, dan insya Allah produk Romlah semuanya halal. Untuk sertifikat halal MUI sendiri sedang berproses pendaftaran,” ungkap dia.

Raup Ratusan Juta Rupiah
Seperti cerita wirausaha lainnya, Nia juga mengalami kesulitan memasarkan produk di awal merintis bisnis oleh-olehnya. Bahkan di bulan-bulan pertama, penjualannya masih di bawah angka Rp1 juta. Rendahnya omzet yang didapat lantaran masih mengandalkan rumah tinggalnya yang disulap menjadi toko Romlahkecil-kecilan, dan kurangnya aktivitas pemasaran yang dilakukan.

Sadar pasarnya terbatas jika hanya mengandalkan toko, Nia mulai merambah pemasaran online melalui website dan media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan WhatsApp. Bahkan masuk ke market place besar, seperti Tokopedia dan Bukalapak, termasuk layanan-antar makanan online, Go-Food dan Grab Food.

Hasilnya cukup efektif, setelah tiga bulan berdiri hingga sekarang omzetnya terus merangkak naik. Angkanya telah mencapai Rp100 juta, bahkan di bulan Ramadan dan musim Lebaran angkanya bisa melonjak hingga 200%. Penjualan masih didominasi kategori makanan dengan komposisi 80%, dan sisanya 20% dari kategori suvenir.

Tak hanya gencar di ranah online, kini Romlah juga telah melebarkan sayap dengan membuka cabang di Harmoni Exchange Mall. Menurut Nia, toko fisik masih sangat diperlukan, sebab masih berkontribusi cukup besar sekitar 30% dari total penjualan, meski masih di bawah penjualan melalui website dan media sosial yang mencapai 50%.

Market place menyumbang sekitar 8%, sedangkan layanan-antar makanan online sebesar 12% dari penjualan. “Nilai transaksi di toko masih jauh lebih tinggi ketimbang di online. Satu pengunjung bisa melakukan transaksi dari Rp500.000–Rp2 juta. Sementara di online hanya sekitar Rp250.000,” bebernya.

Agar lebih dekat dengan masyarakat Betawi dan dikenal pelanggan, Nia aktif mengikuti pameran yang berhubungan dengan kebudayaan Betawi, seperti Festival Condet, Festival Kemang, dan Festival Cipete Vaganza. Ia juga menempatkan kultur khas Betawi dalam desain tokonya, mulai ornamen hingga interior.

Yang tak kalah menarik, dalam interaksi dan komunikasi baik di toko maupun di media sosial, Romlah menggunakan bahasa Betawi. Termasuk menghadirkan ikon Mpok Romlah, sosok perempuan Betawi yang nyablak namun memiliki jiwa sosial tinggi dan memegang teguh norma-norma. “Mpok Romlah menjadi identitas kami dalam pelayanan. Gaya bahasanya ceplas-ceplos, tapi tetap sopan,” pungkasnya. 

(Moh. Agus Mahribi, telah dimuat di Majalah MARKETING Edisi Agustus 2017)


Rambut Tetap Sehat Meski Dalam Balutan Hijab

Rambut adalah mahkota yang paling berharga dan salah satu hal yang terpenting untuk tampil cantik. Memiliki rambut indah, bersih, dan sehat merupakan idaman para wanita, tak terkecuali wanita berhijab yang umumnya mengalami masalah rambut seperti gatal, ketombe, mudah patah, kasar, dan lepek.


Memahami akan kebutuhan perawatan rambut dan kulit kepala wanita berhijab, serta salah satu wujud kepedulian bagi keamanan dan kenyamanan wanita Indonesia. Merek lokal asli Indonesia, Sariayu Martha Tilaar menghadirkan inovasi produk khusus hijaber, yakni Hijab Hair Care Series dengan jenis rangkain produk dimulai dari shampoo, conditioner, hair tonic lotion, dan hair mist yang menggunakan bahan alami dari kekayaan hayati.

Teranyar Sariayu meluncurkan New Sariayu Hijab Intense Series Shampoo Hairfall. Setiap produk Hijab Hair Care Series punya fungsi masing-masing untuk membuat rambut semakin sehat. Sariayu Hijab Intense Series Shampoo Hairfall yang kaya akan nutrisi bagi rambut ini bekerja dengan 3 langkah intensive, yaitu merangsang pertumbuhan rambut baru kuat 78%, mengatasi rambut rontok 93% dan mengembalikan vitalitas rambut.

New Sariayu Hijab Intense Series Shampoo Hairfall hadir dalam kemasan isi 180 ml dengan tutup botol model flip yang simple sehingga lebih mudah kala penggunaan. Agar manfaatnya semakin optimal lengkapi perawatan rambut berhijab dengan varian Hijab Hair Care Series  lainnya.

Halal dan Aman
Bagi wanita Indonesia yang mayoritas muslim, standar kehalalan produk sangatlah penting untuk menjamin keamanan dan kenyamanan. Label halal menjadi faktor yang penting dalam pemilihan produk, termasuk kosmetik. Pasalnya, produk kosmetik yang digunakan langsung pada kulit akan sangat berpengaruh dalam menjalankan ibadah.

Produk Sariayu tidak hanya mempercantik, tetapi juga aman digunakan sesuai syariah hukum agama. Sejak awal Sariayu sudah menjaga keamanan dan kehalalan produknya dengan bahan-bahan dan proses yang halal sebagai wujud komitmen memberikan produk bermutu, aman, dan nyaman digunakan, khususnya untuk konsumen muslim.

Pada tahun 2012, produk-produk PT Martina Berto Tbk, termasuk Sariayu, telah mendapatkan sertifikasi halal untuk produk dan implementasi Sistem Jaminan Halal (SJH) dari LPPOM MUI. 

Sejak tahun 2016, Sariayu berhasil mendapatkan dan mempertahankan sertifikasi halal dengan status A melalui konsistensi kehalalan dan perbaikan yang berkesinambungan. 


Bahan Natural dari Kekayaan Alam Indonesia
Tak hanya halal, New Sariayu Hijab Intense Series Shampoo Hairfall menggunakan bahan-bahan yang natural dengan ekstrak kacang polong dan kedelai yang mengandung PeaVit Complex yang membantu atasi kerontokan dan kerapuhan rambut.

Salah satu penyebab kerontokan rambut adalah kekurangan vitamin C yang menyebabkan rambut rapuh dan kering. Kacang polong mengandung nutrisi vitamin C yang berperan menghambat kerontokan rambut. Ini dikarenakan folikel rambut membutuhkan vitamin C untuk meningkatkan produksi kolagen.

Manfaat lain kacang polong adalah menumbuhkan rambut. Kandungan vitamin B6, B12 dan folat membantu menciptakan sel-sel darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke sel-sel kulit kepala yang dapat memicu pertumbuhan rambut.

Kacang kedelai yang kaya akan protein, lemak, vitamin dan mineral mengandung isoflavon yang kaya antioksidan ternyata sangat bermanfaat untuk rambut, khususnya untuk mencegah dan mengatasi kerontokan rambut. Selain itu kedelai juga mengandung lesitin yang bisa memperbaiki pembuluh arteri dan vena di kulit kepala, serta memperlancar peredaran darah.

New Sariayu Hijab Intense Series Shampoo Hairfall menggunakan bahan-bahan alami dari kekayaan alam Indonesia, sehingga shampoo ini sangat cocok bagi wanita Indonesia, baik dalam balutan hijab maupun tidak. Ayo rasakan kesegaran dan khasiatnya serta bangga terhadap kecantikan Indonesia!

Sayonara rambut rontok....!!!





Rabu, 10 Agustus 2016

Memulai Sambil Belajar



Tanpa pengetahuan dan pengalaman, Raymond berhasil mengembangkan bisnis toko elektronik yang digelutinya, bahkan meraup omzet miliaran rupiah setiap bulan. 

Sribu.com

Ada peribahasa yang mengatakan, “Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri”. Nilai yang terkandung dari pepatah ini adalah sebaik-baik negeri orang, tidak sebaik di negeri sendiri. Ini pula yang dirasakan Raymond Siswara Wong, Pendiri Arjuna Elektronik, ketika memutuskan kembali dari luar negeri dan memulai usaha di sini. 

Raymond menyeberang ke Australia pada usia 16 untuk menimba ilmu di University of Melbourne. Sukses merampungkan studi di bidang computer science dalam kurun waktu 3,5 tahun, kemudian ia pindah ke Sydney untuk bekerja di salah satu perusahaan periklanan. Namun, itu tak bertahan lama. Setelah dua tahun bekerja, ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia pada tahun 2011. 

“Walau secara pekerjaan dan jenjang karier di Australia cukup baik, hati saya terpanggil untuk kembali ke Indonesia. Bagi saya kehidupan di sini jauh lebih enak dibanding di Australia, apalagi keluarga besar berada di sini,” jelas Raymond akan alasan kepulangannya. 

Diakui Raymond, dirinya memang sempat bingung ketika akan pulang kampung ke Indonesia, lantaran tidak tahu mau berbisnis apa. Bak gayung bersambut, di saat yang bersamaan FIF—perusahaan pembiayaan yang awalnya fokus membiayai sepeda motor—tengah masuk ke ceruk baru untuk membiayai produk-produk elektronik dengan merek Spektra.

“Bisnis orang tua di bidang dealer motor dan telah bekerja sama dengan FIF. Bila sebelumnya hanya pembiayaan sepeda motor, FIF menawarkan pembiayaan kredit elektronik. Mendengar peluang tersebut, saya langsung mengajukan pengunduran diri dari tempat bekerja. Satu bulan kemudian saya pulang ke Indonesia untuk membuka toko kredit elektronik,” tuturnya. 

Masuk ke bisnis elektronik diakui Raymond memang tanpa pengalaman sama sekali. Alhasil, ia harus mempelajari pasarnya, baik dari sisi perilaku konsumen elektronik, dan mencari pemasok produk elektronik. Setelah dipelajari, ternyata belum banyak pemain di pembiayaan elektronik yang menyasar ke segmen menengah-bawah. “Intinya mulai dulu sambil belajar,” tambahnya. 

Sebagai pemain baru di bisnis elektronik, Raymond sadar bahwa sulit untuk bersaing langsung dengan pemain yang telah eksis. Jadi, ia memposisikan usahanya sebagai toko elektronik yang konsentrasi di kredit. Meski kala itu, konsumen belum tahu bila pembelian produk elektronik bisa dicicil.

Memakai merek Raja Elektronik, Raymond memulai usahanya dengan menumpang di dealer motor sang ayah, sambil membuka tenda pameran di depan dealer, pom bensin, dan pusat belanja. Modal awalnya mencapai Rp1 miliar, dan kemudian seiring berjalannya waktu, modal ditambah lagi.

“Kami menggunakan merek Raja Elektronik hanya selama tiga bulan. Rupanya merek tersebut sudah digunakan salah satu distributor elektronik besar. Akhirnya diganti menjadi Arjuna Elektronik. Dalam pewayangan, Arjuna dikenal sebagai tokoh yang gagah, perkasa, dan impian banyak wanita. Harapannya, bisnis Arjuna Elektronik menjadi besar dan disukai pelanggan,” beber Raymond. 

Dipercaya Pemasok dan Leasing
Kendati konsumen belum teredukasi secara baik, Arjuna Elektronik tidak mengalami kendala yang signifikan dalam pemasaran karena konsumen sudah mulai familier akan sistem kredit, khususnya sepeda motor. Apalagi animo di masyarakat mengenai pembelian dengan cara angsuran sangat tinggi.

“Di bulan pertama respons dari konsumen cukup bagus. Banyak aplikasi yang masuk ke Arjuna Elektronik. Namun karena Spektra juga masih baru, banyak aplikasi yang tidak terproses. Apalagi sebelumnya dealer-dealer elektronik FIF tidak berkonsentrasi pada penjualan kredit, tetapi lebih pada penjualan tunai,” jelas dia. 

Roda bisnis Arjuna Elektronik yang bergulir cepat membuat Raymond kian optimistis. Hanya dalam hitungan bulan, toko kredit elektroniknya mulai berkembang. Bila saat memulai bisnis pada Juli 2011 ia masih nebeng dealer sang ayah, di akhir tahun 2011 Raymond sudah memiliki toko sendiri berlantai empat. 

Empat bulan kemudian, di tahun 2012, Arjuna Elektronik sudah memiliki showroom pertama Ruko Taman Palem Lestari, Cengkareng, Jakarta Barat. Bahkan sampai akhir tahun 2012 sudah ada 12 titik pameran. Setahun kemudian, Raymond melebarkan sayap ke Karawaci, Tangerang, dengan membuka showroom kedua. “Produk yang pertama kali dipasarkan meliputi TV, kulkas, mesin cuci, dan AC,” ujar dia. 

Dalam perjalanannya jumlah kategori produk juga bertambah, meliputi laptop, handphone, kamera, audio system, dan peralatan rumah tangga. Awalnya produk elektronik didapat dari toko eceran dan grosir. Kemudian pada tahun 2012, ATPM produk LG masuk karena percaya dengan konsep toko Arjuna Elektronik. 

“Setelah produk LG masuk di toko kami, satu per satu ATPM elektronik lain berdatangan menawarkan produknya. Dulu kami yang cari, sekarang mereka yang datang. Saat ini kami telah bermitra dengan 11 ATPM, meliputi LG, Polytron, Sharp, Samsung, Daikin, Asus, Acer, dan lainnya,” ungkap Raymond. 

Sekarang, selain dipercaya kalangan pemasok elektronik, Arjuna Elektronik juga sudah dipercaya sejumlah perusahaan leasing seperti FIF, Kredit Plus, Aeon, dan Home Credit.

Garap Pasar Online dan Tunai
Kondisi pasar yang lesu juga berdampak terhadap perkembangan bisnis Arjuna Elektronik. Pada tahun 2015, Raymond mulai mengubah strategi pemasarannya dengan mengurangi jumlah toko dari belasan menjadi tiga toko. Di samping itu ia juga memanfaatkan era digital melalui toko online www.arjunaelektronik.com yang telah dikembangkan sejak tahun 2012. 

“Pengguna Arjunaelektronik.com diperkirakan mencapai 100 ribu. Sementara pengunjungnya bisa mencapai sekitar 8.000 per hari, dan dalam sehari ada sekitar 200 e-mail yang tertarik untuk mengajukan kredit,” sebut dia. 

Selain masuk ke pasar online, Raymond juga mengubah model bisnis yang tadinya hanya merupakan toko elektronik yang melayani penjualan kredit, menjadi toko elektronik yang melayani pembelian kredit dan tunai. Hal itu dilakukan mengingat pasar kredit elektronik tidak sampai 5%. 

“Untuk berkembang, perusahaan harus berevolusi. Jadi, tidak ada salahnya masuk ke pasar tunai juga. Pembelian ini diterapkan di toko online Arjuna Elektronik dan marketplace, seperti Lazada, Elevania, Blibli, Bukalapak, Tokopedia, Bhinneka,” imbuhnya. 

Saat ini kontribusi penjualan Arjuna Elektronik sebanyak 90% berasal dari online. Dari total tersebut, penjualan toko online dan marketplace berimbang sebesar 50:50. (Moh. Agus Mahribi, telah dimuat di Majalah MARKETING Edisi Mei 2016)

Usung Konten Tekstil Lokal

Berawal dari keinginan membuat busana untuk sang buah hati agar terlihat keren namun tetap berkonsep muslim. Kini Herlina mampu meraup omzet puluhan juta rupiah dari bisnis busana muslim kasual anak. 

Ide bisnis bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Tidak menutupi kemungkinan hal-hal yang tak pernah terpikirkan oleh sebagian orang pada umumnya. Tengok saja pengalaman Herlina Trisnaningsih yang masuk ke bisnis pakaian muslim anak lantaran memiliki pengalaman kesulitan menemukan baju muslim kasual yang cocok, nyaman, unik, dan kekinian untuk sang buah hati. 

Berangkat dari pengalaman tersebut, Herlina mulai mendesain berbagai jenis baju muslim yang lebih kasual, tidak sekadar bisa dipakai saat mengaji, tetapi dapat dikenakan untuk segala acara. Tak hanya itu, ia pun berhasil membuat terobosan dengan mengubah model busana muslim anak yang kaku menjadi lebih trendi, dengan mengaplikasikan berbagai jenis kain tradisional seperti batik, tenun, maupun songket.

Sebelum menggeluti bisnis pakaian muslim anak, Herlina menceritakan sebenarnya ia sudah menjalankan usaha jual baju sisa ekspor secara online. Namun, keterbatasan stok dan ukuran membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Dari situ timbul ide untuk memproduksi dan memasarkan baju anak dan aksesori busana anak dengan merek Little Zee.

“Saya masuk ke bisnis pakaian anak karena ingin memiliki usaha yang sesuai dengan passion. Tidak terikat waktu, bisa sambil mengurus rumah tangga dan anak, sekaligus mandiri dan bisa bermanfaat untuk banyak orang. Target bisa mengembangkan usaha dengan memiliki distributor dan reseller di seluruh Indonesia,” kata Herlina. 

Pemilihan nama “Little Zee” sebagai merek disebut perempuan yang akrab disapa Erlin ini, karena mengandung filosofi bahwa memulai usaha dari yang kecil dan dari belakang (Z huruf paling akhir). Dengan harapan sembari belajar bisa menjadi besar dan memimpin di bisnis busana muslim anak di masa mendatang. 

Produksi pertama Little Zee berupa baju gamis set jilbab dengan aplikasi kain perca buatan tangan (handmade), ditambah tali-tali dari bahan katun. Produk perdana tersebut mampu menarik konsumen, khususnya para ibu. Yang menarik, koleksi busana muslim kasual Erlin tak hanya diminati konsumen dalam negeri, konsumen dari negeri tetangga pun turut kepincut. 

Menurut Erlin, produk Little Zee cukup diminati konsumen karena modelnya yang unik dan menarik. Apalagi ia sendiri telah memiliki pangsa pasar yang telah terbentuk dari hasil usaha baju anak sisa ekspor, yang tersebar di beberapa wilayah. “Little Zee menyediakan busana muslim anak dari usia 1─12 tahun,” sebut dia. 

Seiring berjalannya waktu, koleksi pakaian anak Little Zee terus bertambah. Beragam baju kasual anak yang ditawarkan mulai dari celana, rok, baju atasan, outer, mini dress, long dress, gaun pesta, bahkan kebaya dan rok etnik, yang jika dipadu padankan tetap bisa untuk tampilan kasual muslim. Untuk ide desainnya, Little Zee mengikuti ramalan tren dari asosiasi desainer. Namun, tetap disesuaikan dengan keinginan pasar terkini. 

“Soal tren model, Little Zee lebih fokus pada kenyamanan, kesederhanaan, dan keunikan desain. Setiap bulan ada produk baru sekitar lima item. Bila ada kegiatan besar di toko seperti tahun baru, imlek dan hari raya, termasuk kegiatan pameran, akan dikeluarkan lebih banyak desain baru,” terangnya. 

Promosi dan Pemasaran
Dalam membangun merek Little Zee supaya dikenal konsumen, di awal usaha, Erlin memanfaatkan media online, yakni website dan Facebook. Cara ini dianggap efektif karena tidak memerlukan biaya besar, namun memiliki dampak yang cukup signifikan. Terbukti di bulan pertama berhasil terjual 50 set baju muslim untuk konsumen dari Singapura, melalui Alibaba.com.

Sukses di ranah online, baju muslim buatan Erlin dilirik oleh retail modern terkemuka. Saat ini produk Little Zee dapat ditemukan di department store seperti Metro dan Sogo, de Moss—toko busana muslim besar di Bandung, hingga butik Adrevi di Makassar. “Kami membidik konsumen menengah ke atas dengan harga baju muslim kisaran harga Rp150.000–Rp650.000 per piece,” ungkap Erlin. 

Dalam sebulan dia mengaku dapat menjual setidaknya 250 pieces dan meraup omzet sekitar Rp50 juta dengan pembeli yang berasal dari kota-kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bali, Semarang, Batam, Medan, Aceh, Riau, Banjarmasin, dan Makassar. 

“Permintaan terbanyak biasanya terjadi jelang Lebaran dan akhir tahun dengan peningkatan 4─5 kali lipat. Kontribusi penjualan offline sebesar 75%, sedangkan online melalui website dan media sosial mencapai 25%,” kata penghobi olahraga renang tersebut. 

Menyoal target pengembangan bisnis, Erlin ingin terus menambah model dan varian produk Little Zee, misalnya tas, sepatu, dan aksesori anak. Selain itu, dirinya menargetkan akan membuka lebih banyak counter di jaringan Metro dan Sogo department store supaya merek Little Zee lebih kuat dan dikenal masyarakat luas. (Moh. Agus Mahribi, telah dimuat di Majalah MARKETING Edisi Juli 2016)

Senin, 04 April 2016

Belajar dari Pengalaman


Jatuh bangun dalam berbisnis sudah biasa dialami Yasa Paramita Singgih. Kini namanya turut menghiasi jajaran nama pengusaha muda sukses di Tanah Air.


Siapa pun bisa menjadi pengusaha tanpa ada batasan usia, pendidikan, ataupun jenis kelamin. Keberhasilan berwirausaha adalah milik mereka yang mau bekerja keras, tekun, dan sabar. Yasa Paramita Singgih merupakan salah satu contoh nyata pengusaha yang sukses di usia muda. Bahkan cerita suksesnya telah dibuat film dokumenter Pemimpin Muda dalam Dunia Bisnis yang diinisiasi Kemenpora.

Sukses menjadi pengusaha memang tak pernah direncanakan Yasa, namun jalan hiduplah yang menuntun dia untuk bergelut di dunia bisnis. Faktor ekonomi dan keadaan orang tua yang sedang sakit membuat ia harus bekerja guna mendapatkan penghasilan. “Saya memutuskan mencari uang sendiri sejak usia 15 tahun karena membutuhkan uang untuk biaya operasi ayah yang sedang sakit,” Yasa bercerita.

Untuk mendapatkan uang, beragam pekerjaan pernah dilakoni Yasa, mulai dari kerja serabutan, menjadi MC, hingga bekerja di sebuah EO. Tepat di usia 16 tahun atau masih duduk di kelas 1 SMU, Yasa pun memberanikan diri untuk terjun ke bisnis kaus dengan memproduksi sendiri. Namun, ternyata bisnis yang digelutinya gagal total.

Tak patah arang, Yasa terus mencoba berbisnis kaus dengan menjadi reseller dari pedagang-pedagang di Tanah Abang dan memasarkannya secara online. “Barangnya ambil dulu dari pedagang di sana, kalau laku baru dibayar. Responsnya sangat bagus, baju modal Rp30.000 bisa dijual dengan harga Rp90.000─Rp120.000. Kuncinya saat itu adalah membuat foto produk yang sangat menarik dan kelihatan mahal,” jelas dia.

Keinginan Yasa untuk menekuni bisnis kaus kian hari makin kuat, sehingga ia memutuskan untuk membuat merek sendiri dengan nama Men’s Republic. Pertimbangan fokus membidik pria sebagai segmen pasar karena selama ini ia banyak mengambil kaus-kaus pria dari pedagang Tanah Abang dan sudah memiliki beberapa pelanggan loyal.

Diakui Yasa memang daya beli pria tidak sebesar wanita. Namun, permintaan produk pria tidak serumit produk wanita yang terlalu banyak mode dan cepat berganti tren. Selain itu menghadapi pelanggan pria jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada pelanggan wanita yang banyak pertimbangan dan menawar harga.

Ternyata merek Men’s Republic berkembang sangat cepat. Bila awalnya hanya fokus memproduksi kaus, sekarang sudah masuk ke produk pakaian khusus pria. “Saat ini Men’s Republic memiliki produk pakaian mulai dari kaus, jaket, sandal, sampai sepatu. Segmen pasar Men’s Republic adalah pria kelas menengah dengan target usia 17─25 tahun, serta melek media sosial,” sebut Yasa.

Pertimbangan lain menyasar kaum pria, Yasa melihat banyak merek lokal produk pria harganya tidak masuk akal untuk kalangan kelas menengah. Ceruk inilah yang coba digarapnya dengan memberikan pilihan menarik bagi pria kelas menengah, yaitu produk berkualitas dan model premium namun harga sangat terjangkau.

Harga pakaian dipasarkan mulai dari Rp100.000─Rp350.000, untuk sepatu mulai dari Rp200.000–Rp450.000. “Dalam sebulan kami bisa menjual sekitar 500 pasang sepatu dengan model kasual yang paling laku, sedangkan untuk pakaian sekitar 150 produk dengan omzet mencapai Rp100 juta–Rp150 juta,” ungkap mahasiswa Bina Nusantara University jurusan Marketing Communication ini.

Konsumen Men’s Republic terbanyak masih berasal dari Jabodetabek, namun banyak juga dari kota besar lainnya seperti Bandung, Pontianak, Medan, Denpasar, Samarinda. Bahkan dengan dukungan perkembangan dunia online, Men’s Republic sudah dipasarkan sampai ke Hong Kong, Macau, dan Malaysia.

Soal strategi pemasaran, Yasa lebih mengutamakan pemasaran online di media sosial dan website. Namun, ia tidak meninggalkan kegiatan offline dengan rutin hadir setiap bulannya di bazar pusat perbelanjaan di Jakarta. Termasuk memanfaatkan reseller yang jumlahnya sudah lebih dari 120 reseller. Strategi ini cukup berhasil sebab satu reseller mampu mendapatkan omzet jutaan rupiah per bulan.

Di masa mendatang, Yasa akan melengkapi varian produk Men’s Republic lebih banyak lagi. Saat ini dirinya sedang memproyeksikan pembuatan celana jeans dan chino serta dompet khusus pria. Termasuk meningkatkan jumlah reseller resmi yang disebut ARMY (Authorized Reseller of Men’s Republic).

Keberhasilan Yasa memasarkan produk lantaran kepiawaiannya dalam memberikan nilai tambah bagi produk yang ditawarkan. “Kami mau Men’s Republic bukan hanya dikenal sebagai merek yang menyediakan produk fashion pria, tetapi menjadi gaya hidup para pria melalui produk yang simple, excellence, dan gentlemen,” tegas dia.

Itu dibuktikan dari warna dan desain yang sangat simple dan bermain di warna gelap saja. Soal ide desain biasanya “nyontek” dari merek luar negeri, kemudian dimodifikasi dan diubah modelnya, disesuaikan dengan konsep merek Men’s Republic oleh bagian produksi. Dalam satu tahun dapat dihasilkan sekitar 100 desain baru untuk seluruh produk.

Nilai tambah lain yang ditawarkan adalah kualitas yang sangat prima dengan memberikan jaminan garansi sepatu kembali, boleh tukar dan cash back apabila dirasa produk tidak cocok. Sementara untuk mengasosiasikan Men’s Republic sebagai merek gentlemen, dilakukan kampanye melalui media sosial seputar tips-tips khusus pria, hubungan cinta, ataupun karier.

“Ternyata edukasi ini sangat disenangi oleh follower dan menjadi viral setiap harinya. Kami juga sedang merencanakan kegiatan seperti seminar publik yang diadakan oleh Men’s Republic dengan tema Gentlemen, Relationship & Career,” ungkap Yasa. (Majalah MARKETING/Moh. Agus Mahribi