Tampilkan postingan dengan label Entrepreneur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Entrepreneur. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2016

Raih Fulus dari Gurihnya Bisnis Rendang Telur


Melalui ide-ide baru yang original dan tidak biasa, Zulfayetri mampu membuat rendang berbahan baku telur yang mampu bertahan lama. Dari modifikasi ini pula ia meraup omzet ratusan juta rupiah dan diganjar banyak penghargaan di bidang inovasi.

Inovasi dan kreativitas adalah faktor yang perlu dimiliki dan dikembangkan dalam diri pelaku wirausaha untuk mengembangkan produk atau jasa yang menyesuaikan kebutuhan konsumen. Kedua faktor inilah yang menjadi konsen Zulfayetri ketika memulai bisnis rendang telur Kokoci 10 tahun silam.

Zulfayetri mengatakan, sebenarnya dari dulu sudah ada rendang telur tapi potongannya masih sebesar tahu dan hanya mampu bertahan selama tiga hari. Dari situ timbul ide untuk melakukan inovasi dengan memproses rendang telur supaya lebih tahan lama.

“Proses produksi rendang telur diubah dengan membuat adonan tipis-tipis, dengan potongan lebih kecil tanpa menghilangkan ciri khas makanan Minang. Tapi, dapat bertahan lebih lama dari yang tadinya tiga hari kini bisa bertahan selama satu tahun,” ungkapnya.

Masuk ke bisnis rendang telur diceritakan pria yang akrab disapa Zul ini berawal dari banyaknya telur retak dari peternakan ayam miliknya dan peternak lainnya yang terletak di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Estimasinya ada sekitar 2% telur retak dan pecah dari total telur yang dihasilkan sentra peternakan ayam tersebut.

“Biasanya telur yang retak dan pecah ini tidak diminati pembeli, kalaupun dijual harganya murah. Akhirnya telur-telur tersebut dibikin kue basah, namun jumlahnya terlalu banyak sehingga tidak bisa terserap semua. Dari situ timbul ide untuk mengelola limbahtelur ini menjadi produk makanan yang memiliki nilai tambah,” ucap penerima penghargaan Inovasi Manajemen Bisnis Produk Peternakan dan Inovasi Produk Tanaman Pangan 2013.

Zul memilih menjadikan telur-telur tersebut sebagai masakan rendang karena makanan ini khas Sumatera Barat yang sudah populer di Indonesia, bahkan hingga mancanegara. Bila lazimnya rendang menggunakan daging dan paru, ia memodifikasi menggunakan telur sebagai bahan bakunya sehingga menjadi rendang kering yang bisa disantap kapan saja.

“Modal awalnya 30 butir telur dan uang sebesar Rp50.000. Rendang yang dihasilkan tidak memakai bahan pengawet. Tapi, bisa tahan lama lantaran minyak di rendang ditiriskan hingga kering,” ungkap Zul.

Strategi Pemasaran
Untuk memasarkan produk rendang telurnya, Zul menggunakan merek Kokoci, yang diambil dari nama salah satu nagari di Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat, yakni Koto Kaciak. Namun, nama ini juga bisa diartikan sebagai singkatan dari “koko dan cici atau dalam bahasa Minang, uda dan uni, atau panggilan untuk laki-laki dan perempuan yang merupakan segmen dari produk rendang telur ini.

Merek tersebut diharapkan mudah diingat, dan produk rendang telur Kokoci disukai oleh semua orang tidak hanya orang Minang saja,” ujar Zul yang tahun 2015 lalu menerima penghargaan Paramakarya.

Terkait pemasaran rendang telur Kokoci, Zul menerapkan beberapa strategi. Awalnya hanya dilakukan promosi mulut ke mulut (word of mouth) di lingkungan sekitarnya. Kemudian dia pun mengikuti beberapa pameran, salah satunya Pekan Raya Jakarta (PRJ) pada tahun 2006. Dalam pameran tersebut respons pengunjung cukup bagus, bahkan mendapatkan beberapa pesanan.

Seiring berjalannya waktu, rendang Kokoci pun makin dikenal masyarakat. Pada tahun 2007, merek Kokoci berhasil masuk toko oleh-oleh keripik Balado Christine Hakim. Bahkan sempat menembus Giant dan Hypermart walaupun dari sisi kemasan masih banyak kekurangan karena menggunakan bahan plastik.

“Di Giant hanya sekitar 1 tahunan, malahan untuk Hypermart tidak sampai 1 tahun karena masalah administrasi dan distribusi. Namun saat ini, konsumen bisa mendapatkan rendang Kokoci di Lottemart serta toko oleh-oleh dan toko kue dari Aceh hingga Surabaya. Di tahun ini kemungkinan akan masuk ke Carrefour dan Alfamart Palembang,” bebernya.

Melebar ke Makanan Camilan
Bila awalnya Kokoci hanya memproduksi rendang telur, kini jenis rendang yang ditawarkan pun bermacam-macam. Ada rendang daging, paru, belut, runtiah (daging suwir), ubi maco (singkong dan ikan teri), dan ada pula beberapa makanan camilan, seperti kentang balado, keripik balado, aneka umbi-umbian.

Rendang kering dibanderol mulai Rp20.000─Rp55.000 untuk setiap kemasan berisi sekitar 185 gram─200 gram. Sementara harga camilan dipatok mulai dari Rp15.000. “Saat ini ada 13 varian yang telah dipasarkan. Akan ada 4 varian yang dilepas ke pasar, yakni rendang ikan lele dan 3 makanan camilan,” sebut Zul.

Kontribusi penjualan rendang dan camilan saat ini bisa dibilang berimbang. Penjualan rendang terbesar berasal dari rendang telur sekitar 60%, sedangkan camilan yang paling laku adalah ubi ganepo dan keripik balado. Dari bisnis ini Zul bisa memperoleh omzet di atas Rp100 juta setiap bulannya.

Proses produksinya juga sudah mengalami perkembangan dengan mengacu pada standar nasional industri (SNI), GMP, dan ACCP sehingga rendang telur menjadi higienis dan lebih tahan lama. Namun begitu, proses memasak tradisional masih dipertahankan, yaitu penggunaan tungku dan kayu bakar agar cita rasa rendang yang dihasilkan lebih enak.

Meski rendang termasuk kuliner tradisional, Zul sangat memerhatikan kemasan untuk menjaga kualitas produk. Ia mengklaim produknya dengan kemasan plastik tebal dapat bertahan selama 3 bulan, sedangkan dengan kemasan kardus karton bisa bertahan selama 6 bulan, dan 1 tahun dengan kemasan kaleng komposit. “Kokoci merupakan satu-satunya produsen rendang yang menggunakan kaleng komposit,” jelasnya.

Sukses di bisnis rendang tidak membuat Zul berpuas diri. Alumnus Fakultas Teknologi Pertanian IPB ini memiliki ambisi membuat restoran yang dilengkapi dengan toko oleh-oleh dan pabrik produksi berskala kecil untuk memberikan edukasi dan pengalaman dan pengunjung tentang pembuatan makanan khas Sumatera Barat, khususnya rendang. (Majalah MARKETING/Moh. Agus Mahribi)

Selasa, 31 Maret 2015

Jeli Melihat Peluang


Keberanian Agung Norhasni keluar dari pekerjaannya untuk berwirausaha terbayar sudah. Kini dirinya sukses meraup keuntungan dari bisnis tas yang digelutinya. Simak seperti apa kisahnya?

Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) masih merupakan pilihan yang paling diminati banyak orang dalam berkarier. Sebaliknya, Agung rela meninggalkan pekerjaannya setelah tiga tahun berbakti sebagai PNS di Kementerian Koperasi dan UKM, kemudian beralih menjadi wirausaha di bisnis pembuatan dan pengadaan tas.

Seperti dituturkan Agung, alasan keluar dikarenakan dirinya tidak menemukan passion sebagai PNS. “Awalnya nyaman bekerja sebagai PNS, hanya melakukan aktivitas harian dengan pola sama hingga menjadi rutinitas. Namun, lama kelamaan rutinitas ini terasa membosankan karena tidak dapat ditemukan hal-hal baru,” ujarnya.   

Masuk ke bisnis tas diakui alumnus IPB dan UI ini, tanpa kesengajaan. Pasalnya, ketika berkunjung ke pusat tas di Kecamatan Cibadak Rangkas Bitung, Banten, ia bertemu banyak perajin tas yang kesulitan memasarkan produksinya dikarenakan kurang jaringan pemasaran.

Merasa ada peluang, Agung memutuskan mencoba peruntungan di bisnis tas yang menyasar segmen korporat dengan bendera PT Ayuni Kemala pada tahun 2012. Bermodalkan jaringan yang dimiliki, ia pun mencoba memasarkan produknya ke beberapa perusahaan dan institusi pemerintah. Menariknya saat memulai bisnis, ia mencari pembeli terlebih dahulu sebelum memiliki bengkel kerja (workshop).

Ketika pesanan sudah di “tangan”, barulah ia membuka bengkel kerja pertama di Rangkas Bitung, dengan investasi sekitar Rp800 juta, yang dipergunakan untuk membeli tempat, mesin, bahan tas, dan merekrut tenaga kerja. “Samsung merupakan pelanggan pertama untuk pemesanan sekitar 50 ribu goodie bag dan sekitar 7.000 tas ransel,” kenang Agung.

Jenis produk tas yang dihasilkan Ayuni Kemala meliputi tas ransel, tas wanita, goodie bags, dompet, kantong, dan tas laptop dengan harga variatif tergantung dari model tas dan jenis bahan yang digunakan seperti dinier, dolby, kulit sintetis, kanvas, condura. Misal tas ransel berbahan D300 dan D600 dibanderol dengan kisaran harga Rp60.000 sampai Rp90.000, sedangkan tas berbahan D1680 dipatok mulai dari Rp90.000 hingga Rp200.000. Untuk bahan cordura sendiri kisaran harganya di atas Rp150.000.

Dari harga tersebut, Agung mengatakan tas buatannya masih tergolong terjangkau karena dapat menyesuaikan bujet pelanggan. Ia mengklaim tidak mengambil untung terlalu banyak, mengingat persaingan di bisnis pengadaan dan pembuatan tas cukup ketat, terutama dari pemain-pemain asal Bandung, Jawa Barat.

Kendati begitu, Agung tetap senantiasa menjunjung tinggi kualitas produk demi kepuasan pelanggan. Apalagi, ia menempatkan pelanggan di posisi yang sangat penting sehingga mereka berhak mendapatkan yang terbaik sesuai dengan slogan perusahaan “We make better bags with better price”.

Soal desain, pelanggan dapat memesan sesuai keinginan ataupun dibantu Agung sendiri. Ide desain biasa didapat dari internet, dan setiap bulannya dihasilkan 10 desain baru. Permintaan paling besar berasal dari tas ransel dan tas laptop dengan kontribusi sekitar 70%, sedangkan goodie bag menyumbang sekitar 20%. Sisanya tas perempuan, kantong, dan dompet.

“Pada umumnya pelanggan menginginkan tas dengan model bagus, harga murah, tapi awet. Yang menjadi standar pengerjaan tas, jahitan harus rapi dan kuat. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas jahitan dilakukan dengan sistem bartex yang menggunakan puluhan benang sehingga lebih kuat,” jelas penghobi fotografi ini.

Berkat menjaga kualitas, Ayuni Kemala kini telah dipercaya lebih dari 40 perusahaan besar dalam pembuatan tas, seperti Samsung, Bank Mandiri, LG, Wings Food, Mondelez, Pertamina, Indocement, Erafone. Bahkan di antaranya ada lembaga pemerintah, seperti Badan Pemeriksa Keuangan, Kementerian Pekerjaan Umum, serta Kementerian Koperasi dan UKM.

Terkait strategi pemasaran, Agung memiliki beberapa strategi dari mulai door to door ke perusahaan-perusahaan hingga menggunakan website korporat sebagai etalase produknya. Sementara dalam meningkatkan kesadaran merek, ia melakukan aktivitas BTL dengan mengikuti beragam pameran, semisal pameran UKM, bazar, termasuk Pekan Raya Jakarta (PRJ).

Selain membidik pasar korporat, Ayuni Kemala mulai merintis pasar ritel dengan mengeluarkan dua merek tas besutannya, yakni Nokken yang menyasar segmen pria khususnya pengendara sepeda motor, dan Aylayang merupakan kependekan dari Ayuni Kemaladifokuskan bagi kaum hawa.

Berdasarkan pengamatan Agung, belum ada merek tas lokal yang menyasar ke segmen pengendara sepeda motor. Kalaupun ada lebih pada tas outdoor yang didesain dan diperuntukkan bagi pendaki gunung. Satu dari dua pengendara motor biasanya menggunakan tas. Dari sini terlihat kebutuhan tas yang kuat layaknya tas outdoor.

Kalau Ayla membidik pasar perempuan karena pasarnya sangat gemuk. Itu lantaran tas sudah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi perempuan untuk menemani aktivitas bekerja, kuliah, belanja, ataupun jalan-jalan. Sekarang baru tersedia enam model, baik untuk Nokken dan Ayla,” jelasnya.

Kendati sudah memiliki merek sendiri, Ayuni Kemala masih fokus di segmen korporat. Hal ini terlihat dari kontribusi penjualan yang masih didominasi segmen korporat sekitar 90%, sedangkan sisanya 10% menyasar segmen ritel. “Rata-rata penjualan sekitar 5.000 tas per bulan dengan omzet Rp2,2 miliar per tahun,” beber Agung.

Tentu omzet yang didapat berbanding lurus dengan kerja keras yang dilakukan selama ini. Namun, tujuan utama Agung bukan hanya menghasilkan keuntungan semata, tetapi bisa berkontribusi bagi orang banyak. Melalui usaha yang dirintis, Agung bukan hanya menciptakan pekerjaan untuk dirinya, tetapi juga memberikan kesempatan kerja bagi banyak orang.

Saat ini Ayuni Kemala memiliki dua bengkel kerja yang terletak di Rangkas Bitung dan Kebun Jeruk dengan jumlah mesin jahit sebanyak 60 unit berkapasitas produksi 3.000 tas ransel per minggu dengan mempekerjakan 14 orang karyawan tetap. Namun, bila sedang banyak pesanan, Agung bisa mempekerjakan ratusan orang di sekitar bengkel kerja ataupun memberdayakan perajin yang ada di Sukabumi dan Bogor untuk menunjang produksi.

“Pertimbangan membuka bengkel kerja kedua di Jakarta agar lebih dekat dengan segmen pasar. Pasalnya, kebanyakan perusahaan berkantor pusat di Jakarta. Jadi bagi perusahaan yang ingin mengadakan tas untuk kebutuhan promosi ataupun karyawannya tidak perlu jauh-jauh ke Bandung, karena di Jakarta juga ada,” ujar Agung sedikit berpromosi.



Moh. Agus Mahribi/Majalah MARKETING