Rabu, 27 November 2013

Kian Bersinar Bersama Bintang Iklan

3Second menyadari pentingnya peran endorser dalam meningkatkan ekuitas merek. Tak tanggung-tanggung, beberapa musisi papan atas telah dipilih. Siapa saja mereka dan bagaimana hasilnya?

Selebriti masih menjadi penggerak utama dalam melambungkan merek suatu produk. Cermati saja Ariel Noah, apa pun yang dipakai pria ini pastilah booming. Alhasil, banyak pemilik merek mencoba merangkul publik figur ini.

3Second mungkin menjadi salah satu merek yang beruntung menggunakan jasa pemilik nama lengkap Nazril Irham ini sebagai bintang iklan (endorser) sekaligus duta merek (brand ambassador) untuk salah satu mereknya, yakni Greenlight.

Bukan tanpa perjudian 3Second memilih Ariel sebagai endorser. Pasalnya, selain memiliki karya yang fenomenal, Ariel pun memiliki sisi lain kehidupan yang sempat menjadi highlight di berbagai media dan menimbulkan kontroversi. Hal inilah yang memosisikan sosok Ariel seperti pedang bermata dua; dapat menjadi brand equity builder ataupun brand equity killer.

“Ariel yang sempat vakum di blantika musik Tanah Air membuat kerinduan tersendiri bagi para penggemarnya. Di sinilah kami melihat popularitasnya belum menurun, apalagi Ariel memiliki kredibilitas dan daya tarik tersendiri. Gaya dia yang cool dan misterius menancapkan banyak kesan pada penggemarnya. Ini sesuai kriteria yang kami inginkan. Tantangannya meski sang endorser dinilai negatif oleh sebagian orang, merek kami harus tumbuh positif,” kata Hendri Sase, Head of Marketing 3Second.

Bentuk kerja sama yang dilakukan dengan Ariel bukan hanya dari nilai bisnis, tetapi lebih pada pendekatan personal kepada sang selebriti untuk mendapatkan pengalaman dan kenyamanan dalam menggunakan produk. Selain kenyamanan, kemudahan juga diberikan 3Second dengan banyaknya gerai penjualan di hampir setiap kota besar di Indonesia. Ini membantu sang selebriti akan suplai produk dalam mendukung performa ketika konser, termasuk menyediakan desain khusus buat mereka.

Perjudian besar yang dilakukan berbuah manis. Sejak di-endorse Ariel, pertumbuhan merek Greenlight bergerak pesat, baik dari sisi image maupun awareness. Yang terpenting tingkat kepercayaan konsumen semakin tinggi dan pada akhirnya berujung pada peningkatan penjualan. “Setelah menggandeng Ariel pada Juni 2012 lalu, penjualan merek Greenlight bertumbuh sekitar 25% dibanding periode sebelumnya,” ungkap Hendri.

Belajar dari kesuksesan inilah 3Second kembali mencomot musisi papan atas lainnya, yakni Narova Morina Sinaga, atau yang lebih dikenal publik sebagai Momo Geisha, untuk merek 3Second Ladies3Second merupakan produk uni sex. Sedangkan endorser pria dipilih Raffi Ahmad, presenter kondang yang natural dan atraktif. Tak hanya selebriti lokal, musisi asing asal Inggris, We Start Partys, pun berhasil digaet untuk membantu pemasaran.

Sebenarnya popularitas 3Second cukup kuat di kategori fashion pria, namun di kategori produk wanita masih kedodoran. “Penunjukan Momo Geisha sangatlah tepat karena dekat dengan kehidupan remaja, terutama kaum hawa. Untuk endorser asing, strategi ini merupakan pembuktian bahwa produk dalam negeri mulai diminati oleh band asing ataupun konsumen mancanegara,” jelas dia.

Selain Greenlight dan 3Second, masih ada merek lain yang menjadi andalan produsen pakaian asal Bandung ini, seperti Famo, yang karib dengan gaya Uki Noah, baik di atas panggung ataupun di luar panggung. Satu lagi Moutley, pakaian yang desainnya mengacu pada budaya jalanan (street culture) yang digemari pencinta skateboard dan musik indie rock. Pemilihan endorser-nya pun disesuaikan dengan segmen pasar, yaitu Rosemary band yang mengusung genre indie punk. Adanya para endorser ini diharapkan dapat berkontribusi besar terhadap pertumbuhan perusahaan yang ditargetkan sebesar 30% per tahun.

Tak hanya terikat kerja sama dalam menggunakan produk atau pembuatan iklan, para endorser berkewajiban menjadi bagian dari perusahaan dengan mempromosikan merek-merek 3Second di media sosial ataupun website mereka, serta melakukan kunjungan ke gerai-gerai. “Dalam setahun para endorser melakukan kunjungan ke gerai sebanyak enam kali. Baik peresmian gerai baru maupun jumpa fans di sana,” ujar Hendri.

Keberhasilan membangun merek tak hanya bergantung pada endorser. Dibutuhkan pula kualitas produk dan jaringan pemasaran yang mumpuni. Apalagi para selebriti membuat merek semakin dikenal luas. Antisipasi telah dilakukan 3Second dengan mempersiapkan titik pemasaran yang tersebar di berbagai kota, terdiri dari 80 showroom, 20 street shop, dan 150 counter. Kemudian, sejak tahun 2007 telah dipersiapkan website korporat www.3second-clothing.com yang tahun lalu telah bertransformasi menjadi kanal pemasaran online dengan omzet sekitar Rp200 juta per bulan.

Produk yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari kaos, celana, jaket, sepatu, tas, sandal, dan sebagainya, dengan jumlah rata-rata desain sekitar 240 varian  per bulan. Dan 3Second mampu memproduksi sekitar 2 juta potong per tahun. “Ide desainnya didapat dari tim desain yang melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mencari tren fashion di sana. Setelah terkumpul, ide-ide tersebut akan diadopsi sesuai pasar Indonesia. Komposisi produknya 60% untuk pria dan 40% untuk wanita, sedangkan penjualan masih didominasi oleh produk pria sekitar 70%,” ungkap Hendri.

Soal promosi, pada setiap konser Noah dan Geisha dibagikan brosur yang bisa ditukarkan dengan diskon di stan 3Second. Selain berpromosi, 3Second juga merangkul komunitas untuk lebih mendekatkan diri dengan mengadakan kegiatan-kegiatan, seperti kompetisi skateboard dan musik. Kegiatan yang sedang berjalan saat ini adalah kompetisi menyanyi mirip Ariel dan Momo Geisha yang rencananya akan digelar di enam kota besar. Tahap awal audisi dan penyisihan dilakukan di Kota Bandung. Khusus grand final, Ariel dan Momo Geisha akan menjadi juri.  

Pemenang di setiap kota berhak mendapatkan uang tunai, makan malam, dan jalan-jalan bersama si artis. “Setiap peserta diwajibkan menyanyikan lagu dari kedua musisi tersebut. Kami juga sedang mempersiapkan hadiah spektakuler, mungkin pemenang utama berkesempatan berkolaborasi dengan Ariel lewat lagu ciptaannya. Tujuannya supaya sosok Ariel yang fenomenal identik dengan merek Greenlight,” sebut Hendri.(Majalah MARKETING/Moh. Agus Mahribi)

Terbang ke Luar Negeri dengan Replika Pesawat

Marison mampu menciptakan karya yang memesona para pencinta replika pesawat. Bahkan produknya telah diburu oleh konsumen mancanegara. Bukan hanya itu, hasil karyanya menjadi “tambang emas” dan membawanya berkesempatan mengunjungi berbagai negara.


www.108jakarta.com 

Berawal dari sekadar hobi terkadang melatarbelakangi kesuksesan seseorang dalam membangun bisnis. Apalagi hobi yang digeluti bisa menghasilkan sebuah produk atau barang yang mempunyai nilai jual tinggi, terlebih tidak semua orang bisa melakukan karena dibutuhkan ide brilian dan kreativitas di dalam proses produksinya. Kisah itu pun terjadi pada Marison yang meraup ratusan juta rupiah dari hobi membuat replika pesawat terbang. 

Inspirasi membuat replika pesawat memang sudah tertanam di benak Marison sejak kecil. Kegemaran mengamati “si burung besi” yang melintas di Bandara Halim Perdana Kusuma dekat rumah tinggalnya diimplementasikan dengan membuat replika pesawat dari kayu bekas gagang sapu. “Ide dan model replika pesawat yang dibuat berasal dari mengamati pesawat yang melintas. Replika pesawat yang dihasilkan akan dipakai bermain sendiri atau dijual ke teman sekolah,” kenang Marison. 

Kecintaan dan rasa ingin tahu mengenai pesawat terbang, khususnya replika pesawat, terus terbawa hingga dewasa. Guna mengasah kemampuan dan keterampilannya, Marison bergabung dengan sebuah perusahaan replika pesawat. Di situlah dia mendapat informasi tentang jenis bahan dan ukuran, serta cara membuat dan merakit replika pesawat, sekaligus mempelajari potensi pasarnya, baik jenis replika pesawat komersial, pesawat tempur, helikopter, sampai pesawat ruang angkasa.

Setelah memiliki pengetahuan dan bekal yang cukup, akhirnya Marison memutuskan terjun langsung ke bisnis replikasi pesawat bersama dua rekan kerjanya sesama penghobi, pada tahun 1992. Namun, krisis ekonomi—tepatnya pada tahun 1999—membuat Marison harus melenggang sendiri lantaran kedua rekannya memilih untuk fokus di bidang lain. Apalagi di saat krisis ekonomi, usahanya tidak mendapatkan pesanan dan tidak melakukan penjualan selama enam bulan.

Tak patah arang, Marison pun terus bertahan dan berkarya membesarkan Anglo Indonesia Aircraft Models, merek replika pesawat yang diusungnya. Berkat ketekunan dan kerja keras serta bantuan dari istrinya, Nurhayati, kini usaha Marison berbuah hasil. Produk replika pesawatnya sudah diminati banyak konsumen. Tak hanya dipasarkan di dalam negeri, produk-produk Anglo sudah merambah ke pasar mancanegara, seperti Hong Kong, Jepang Filipina, Dubai, Australia, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. 

Mengamati replika pesawat Anglo, mungkin kebanyakan orang sepakat bahwa untuk membuat replika pesawat dibutuhkan keterampilan dan kreativitas yang tinggi hingga mempunyai nilai seni tersendiri. Betapa tidak, selain tingkat kesulitan cukup tinggi, diperlukan juga ketekunan dan kesabaran. “Semua konsep sudah matang di kepala, namun dalam realisasinya tak mudah karena membutuhkan pekerja (perajin) yang memiliki selera dan nilai seni yang tinggi. Bisnis replika pesawat itu unik, pengerjaannya harus mengikuti keinginan hati untuk menciptakan kepuasan dari hasil kerja sendiri, tetapi menyesuaikan minat konsumen,” ujar Marison. 

Berbicara soal target pasar, Nurhayati mengatakan bahwa peminat replika pesawat bukan hanya pengoleksi individu. Malahan porsi terbesar berasal dari maskapai penerbangan yang sering memanfaatkannya untuk suvenir atau pajangan. Alhasil, segmen yang fokus dibidik Anglo adalah pasar korporat (B2B), khususnya maskapai asing. Apalagi penjualan saat ini masih didominasi oleh pasar luar negeri dengan komposisi sebesar 70% dan pasar lokal sebesar 30%. “Untuk pasar global, kami belum menggunakan merek sendiri dan masih menggandeng agen atau broker di negara terkait,” imbuh dia.

Bukan tanpa alasan Anglo lebih menyasar pasar global. Ini lantaran harga produk replika pesawat yang dihasilkan terbilang tinggi, sehingga tidak cocok dengan pasar dalam negeri. Wajar bila ini terjadi, karena proses produksi yang dilakukan hampir 100% menggunakan tangan secara manual (hand made) yang notabene memiliki tingkat kesulitan tinggi. Selain itu, dibutuhkan ketelitian serta proses produksi panjang guna menghasilkan replika pesawat yang berkualitas. 

“Maskapai lokal cenderung memilih replika pesawat hasil pabrikan luar negeri seperti Cina yang proses hand made-nya hanya sekitar 10%, sekaligus memiliki harga lebih murah. Berbeda dengan maskapai asing yang lebih menyukai produk hand made. Etihad Airlines pernah mengundang kami terbang ke Abu Dhabi untuk melihat langsung replika pesawat Anglo. Meski harga 3–4 kali dari replika pesawat asal Cina, Etihad lebih percaya untuk bekerja sama dengan Anglo,” terang Marison.

Normalnya, ukuran replika pesawat yang ditawarkan Anglo mulai dari 15 cm sampai 16 m dengan harga untuk pasar lokal mulai dari Rp100.000 per unit, sedangkan untuk pasar ekspor harga minimum dipatok sebesar Rp400.000 per unit. Harga untuk pemesanan khusus bisa mencapai sekitar Rp200 juta, bahkan saat ini Anglo sedang mengikuti tender pengadaan untuk sebuah maskapai asing seharga Rp800 juta per unit dengan nilai proyek di atas Rp2 miliar.

Mengenai agresivitas pemasaran, Nurhayati mengakui pihaknya sejauh ini lebih banyak menerima pesanan ketimbang melakukan pemasaran secara langsung. Hal ini terjadi karena keterbatasan kapasitas produksi, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan konsumen. “Penjualan Anglo masih berkisaran 60–70 unit per bulan dengan total nominal rata-rata mencapai Rp150 juta. Permintaan saat ini saja belum bisa terpenuhi semua, apalagi untuk setiap pemesanan, rata-rata konsumen harus inden selama enam bulan,” papar Nurhayati. 

Lantaran tidak terlalu agresif, strategi promosi yang dilakukan Anglo hanya terfokus di ranah BTL dengan mengikuti kegiatan yang sesuai dengan target segmen pasarnya, seperti pameran Inacraft. Tentu kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran merek Anglo di bisnis replika pesawat. (Majalah MARKETING/Moh. Agus Mahribi)

“Kaldu Ayam” yang Diminati Pencinta Fashion Sampai Selebriti


Merek Brodo, sepintas seperti nama sebuah merek asal Italia. Tapi, siapa sangka nama yang disematkan pada produk sepatu pria ini merupakan merek lokal yang dibuat di Cibadayut. Kini penjualannya rata-rata mencapai 2.000 pasang sepatu setiap bulan. Bagaimana kisah sukses membangun merek Brodo?



Sering kali kita temukan entrepreneur yang sukses membangun bisnis dari hobi. Begitu pula dengan Muhammad Yukka Harlanda yang gemar mengoleksi sepatu. Pengalaman kesulitan mendapatkan sepatu kulit ukuran yang diinginkan, belum lagi harga yang relatif mahal, memberinya ide untuk membuat sepatu sendiri.

Tak berhenti di situ, bak oasis di tengah sahara, pengalaman tersebut menginspirasi Yukka untuk mengembangkan kreativitasnya menjadi bisnis sepatu khusus kaum adam. Bermodal sebesar Rp7 juta hasil patungan bersama rekan bisnisnya Putera Dwi Karunia, mereka menyambangi perajin sepatu di Cibaduyut, Bandung, yang terkenal sebagai sentra sepatu murah.

“Kami memulai bisnis sepatu sejak tahun 2010 lalu. Pemikirannya sederhana, kalau membuat sepatu dengan desain dan merek sendiri, kemungkinannya dapat dijual dengan harga yang lebih terjangkau,” kata pria yang saat memulai bisnis masih kuliah di Institut Teknologi Bandung, jurusan Teknik Sipil.

Dari modal tersebut, diperoleh 40 pasang sepatu dengan empat desain yang referensinya didapat dari internet. Kemudian, produk mulai dipasarkan kepada orang-orang terdekat, mulai dari teman, sanak saudara, bahkan orangtua sendiri, dengan merek dagang Brodo. Meski sebenarnya penyematan merek sama sekali tidak ada kaitannya dengan produk yang dihasilkan.

“Pemberian nama Brodo terbilang konyol, karena idenya diambil dari adegan memasak sebuah komik. Kata ‘brodo’ yang dalam bahasa Italia berarti kaldu ayam, merupakan bumbu dasar dari beberapa masakan Italia. Prinsipnya, jika brodo-nya tidak enak, makanan yang dihasilkan pun tidak enak. Begitu juga dengan sepatu Brodo, bila berbusana sepatunya tidak bagus, maka ke atasnya tidak bagus pula,” terang Yukka.

Seperti kebanyakan cerita sukses lainnya, Brodo tidak langsung mudah diterima konsumen. Yukka masih sangat ingat ketika mereknya sulit terjual, bahkan di bulan pertama saja hanya terjual empat pasang. Namun, ketika mencoba menawarkan desain sepatu tersebut melalui jejaring sosial, hasilnya ternyata di luar dugaan. Banyak konsumen yang tertarik dan memesan sepatu ini.

“Sepatu Brodo dibanderol dengan harga Rp195.000 sampai Rp595.000. Segmen yang dibidik Brodo di rentang usia yang cukup lebar, antara 18–40 tahun dari kalangan kelas menengah yang menyukai produk-produk berkualitas guna memenuhi gaya hidup dan fashion mereka,” ungkap Yukka.

Fokus di Online 
Ketika memulai bisnis, Yukka melakukan segala aktivitas pemasaran baik offline maupun online untuk meningkatkan brand awareness Brodo. Namun, seiring berjalannya waktu ia pun memilih untuk fokus di ranah online. “Tahap awal memasarkan, kami berupaya memasukkan produk-produk Brodo ke seluruh distro di Indonesia, maupun department store untuk menggenjot brand awareness dengan mempromosikan ke pemilik distro ataupun mengikuti kegiatan pameran di kota-kota besar di Indonesia,” papar dia.

Sayang, meski akhirnya Brodo sukses memajang produk-produk tersebut di gerai distro dan department store, hasilnya tidak memuaskan seperti yang diharapkan. Hal ini lantaran pertumbuhan penjualannya tidak signifikan dibandingkan penjualan online melalui website dan Facebook. Secara jumlah penjualan offline memang lebih tinggi dibandingkan online; sebaliknya dari segi profit, pemasaran online masih jauh lebih bagus ketimbang pemasaran offline.

“Saat ini pemasaran online berkontribusi besar sekitar 90% dari total penjualan. Konsumen dapat membeli setiap produk Brodo di www.bro.do yang domainnya dibeli dari Republik Dominika, sedangkan untuk media sosial konsumen dapat mengunjungi Facebook: brodobrodo,” sebut Yukka.

Pertimbangan lain untuk fokus ke online, karena melihat produk-produk Brodo sudah mulai ditiru, mulai dari desain sampai merek. Untuk memudahkan konsumen membedakan produk yang asli dan palsu, Brodo hanya menjual di toko online dan gerainya sendiri. “Di sini kami lebih mengeksklusifkan distribusi pemasarannya. Rata-rata penjualan Brodo mencapai 2.000 pasang per bulan,” tambah dia.

Kinclong-nya penjualan Brodo memang tak terlepas dari dua prinsip yang diusung selama ini. Pertama, great design, yaitu setiap desain sepatu yang dihasilkan harus terkesan simpel dan unik, sekaligus terjangkau dengan kualitas dan detail yang menarik. Jumlah sepatu yang ditawarkan sudah beragam jenisnya seperti Signore, Vintage, Fontana, Uno, dan Alpha dengan outsole yang menarik berupa motif nusantara ataupun batik parang.

Kemudian, kedua, great service dengan memberikan layanan yang mampu menjamin kepuasan konsumen. Tak banyak pelaku bisnis online yang berani seperti Brodo memberikan layanan penukaran sepatu secara gratis jika ukuran tidak sesuai, walaupun sudah dipakai. Layanan lainnya, Brodo memiliki layanan servis jika sepatu rusak.

Sandhy Sondoro dan Glenn Fredly Ikut Memasarkan
Celebrity endorser dipandang memiliki keunggulan atraktif yang membedakannya dari individu lain dan mampu memengaruhi konsumen untuk menggunakan produk yang dipakainya, dan identik dengan merek itu sendiri. Ini pula yang dilakukan Yukka. Tanpa pengetahuan mengenai aturan brand endorser, dengan percaya diri ia mencoba merangkul musisi papan atas, Sandhy Sondoro dan Glenn Fredly untuk turut memasarkan produknya.

“Kerja samanya sederhana, tanpa kontrak eksklusif. Artinya selama Sandhy Sondoro mau menggunakan produk-produk Brodo, kita akan memberikan kepadanya. Ketika melihat Sandhy Sondoro menggunakan sepatu Brodo,  siapa sangka, ternyata Glenn Fredly pun tertarik menggunakan sepatu ini,” jelas dia.

Soal aktivitas pemasaran yang akan dilakukan dalam waktu terdekat, Yukka mengatakan akan memanfaatkan para celebrity endorser untuk menampilkan performa mereka di suatu panggung, tetapi penonton yang datang harus menggunakan sepatu Brodo ataupun produk lainnya. Selain itu, rencana mendatang akan dibuat video koleksi khusus Sandhy Sondoro dengan produk Brodo. Pasalnya, selain sepatu, Brodo juga sudah melebarkan sayap bisnis ke produk dompet, tas, dan pakaian khusus pria, karena adanya permintaan dari konsumen. (Majalah MARKETING/Moh. Agus Mahribi)

Senin, 09 Juli 2012

Menanam di Dunia Maya, Memanen di Kebun


NutriSari mengajak para pengguna media sosial untuk menanam buah dan sayur secara virtual di Social Garden. Namun, secara real NutriSari juga menyediakan lahan seluas 4,9 hektare untuk menanam tanaman tersebut dan mendonasikan hasil panennya sebagai bentuk strategi CSR marketing-nya.

Konsep integrasi antara kegiatan corporate social responsibility (CSR) dan bisnis perusahaan, khususnya kegiatan marketing (CSR marketing), saat ini sudah marak dilirik para pelaku bisnis. Pasalnya, bila kegiatan CSR marketing dapat berjalan secara terarah dan efektif sesuai dengan tujuan perusahaan, tentu ada keuntungan strategis yang akan diperoleh perusahaan, baik dari sisi reputasi, ekuitas merek, maupun peningkatan penjualan. 

Uniknya, kolaborasi keduanya yang kerap terjadi di ranah offline kini merambah ke dunia online. Alhasil, media online menjadi tempat pertempuran baru bagi para pelaku bisnis yang gencar membangun reputasi dan merek lewat berbagai media berbasis biaya rendah. Hal serupa juga telah dilakukan NutriSari dengan mengelola “Nutrisari Social Garden” di media sosial.

“Kegiatan CSR marketing di media sosial menciptakan komunikasi dua arah antara perusahaan dan konsumen. Dengan begitu, efek viral yang didapat berperan meningkatkan awareness dan menumbuhkan citra positif perusahaan untuk mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari masyarakat, khususnya konsumen NutriSari,” jelas Norma Sari Dewi, NutriSari Brand Manager PT Nutrifood.

Kegiatan marketing online sendiri sebetulnya telah dilakukan NutriSari sejak tahun 2009 lalu, pada aplikasi berbasis website dan microsite—termasuk media sosial. Memanfaatkan media online tersebut, NutriSari mencoba memperkuat positioning dan mempersonifikasikan diri sebagai “Fruit and Vegetable Expert” dengan menyampaikan pentingnya mengonsumsi buah dan sayur, manfaat buah dan sayur, sampai cerita menarik di balik buah dan sayur. Penyampaiannya dilakukan lewat konten yang telah diakui secara ilmiah melalui jurnal-jurnal yang dapat dipercaya. Dan dalam pengembangan konten, ada departemen khusus yang mendukung, yaitu Nutrifood Research Centre.

Memasuki tahun 2011, NutriSari kembali meluncurkan NutriSari Social Garden sebagai gabungan dari aktivitas online dan offline untuk meningkatkan awareness NutriSari sebagai ahlinya buah dan Sayur. Selain memperkuat positioning, keberadaan Social Garden merupakan bentuk kontribusi terhadap program petani binaan kebun NutriSari di Sentul agar bermanfaat bagi masyarakat luas. “NutriSari ingin mengombinasikan kegiatan online melalui media sosial dan kegiatan offline di kebun buah-buahan dan sayuran organik yang disediakan,” terang Dewi.

Secara online pengguna Social Garden dapat merasakan permainan dan pengalaman baru menanam buah dan sayur secara virtual dengan konsep yang real, yaitu memainkan aplikasi ini di dalam Facebook: NutriSari atau Twitter: @NutriSariID. Cara memainkannya, pengguna harus memilih jenis tanaman yang disukai, seperti bayam, caisim, kangkung, pakcoi, selada, dan srikaya. Kemudian pada tahap berikutnya, pengguna memilih NutriGardener, yakni Nuri atau Trisa yang akan merawat tanaman sampai pada tahap panen. 

Singkatnya, mulai dari memilih pohon buah dan bibit sayur, menyiram, memupuk, mencabut rumput, membasmi hama, memangkas daun, membungkus buah, sampai memilih gardener untuk mengurus tanaman, semuanya dilakukan di media sosial. Pengguna akan mendapatkan poin dalam setiap aktivitas merawat tanaman yang dilakukan. Poin tersebut dapat dikumpulkan, diakumulasi sampai level tertentu. Lalu, 50 orang yang mencapai level tertinggi akan mendapatkan hadiah paket dari NutriSari berupa bibit tanaman dan produk. 

Namun, apabila pengguna kurang rajin merawat tanaman, poinnya akan dikurangi dan level dapat mengalami penurunan. Setiap melakukan aktivitas, pengguna akan mendapatkan poin. Antara lain, menyiram mendapatkan 5 poin, memupuk 40 poin, basmi hama 50 poin, cabut rumput 20 poin, pangkas daun 50 poin, bungkus buah 50 poin, dan poin ekstra bila membantu tanaman tetangga. “Setiap hari tanaman harus disiram, dua minggu sekali dipupuk, seminggu sekali disiangi,” jelas Dewi.

Di saat bersamaan, secara real tanaman di Social Garden sebenarnya akan ditanam dan dirawat di kebun NutriSari yang berada di Sentul, Jawa Barat. Dalam aktivitas ini, NutriSari menyediakan lahan seluas 4,9 hektare untuk ditanami buah dan sayur. Dan sebagai bentuk kegiatan CSR perusahaan, NutriSari menyumbangkan sayuran dan buah hasil panen ke yayasan sosial yang membutuhkan. Sampai saat ini, ada tujuh yayasan sosial yang telah menerima sumbangan berupa buah dan sayur organik hasil dari kebun NutriSari.

Dalam pengembangannya, e-marketing NutriSari, yaitu Facebook dan Twitter, dilakukan oleh internal, baik dalam personifikasi, strategi building brand, sampai ke pembuatan konten. Sementara pengembangan Social Garden bekerja sama dengan pihak luar, yaitu VirtualID. Saat ini, Facebook: NutriSari telah memiliki sekitar 56.000 fans, sedangkan Twitter: @NutriSariID memiliki jumlah follower terbanyak, yaitu 73.000, untuk produk sejenisnya. “Tercatat 14.887 orang telah berkebun di Social Garden,” ungkap Dewi.

Selain itu, NutriSari telah merambah ke media sosial lain, yaitu Instagram (@NutriSariID) dan Pinterest (NutriSari) yang baru digarap di awal tahun ini. NutriSari mengembangkan media sosialnya sebagai wadah CSR marketing merupakan bentuk totalitas dalam setiap tahapan pengembangan strategi dan operasional yang diusung dengan konten berbeda, dapat dipercaya, dan bukan menjual produk belaka, tetapi lebih mendekatkan diri kepada fans dan follower melalui hal-hal menarik. (Majalah DIGITAL MARKETING/Moh. Agus Mahribi)

Sabtu, 26 Mei 2012

Promosikan Indonesia Lewat “Kumi”

Komunitas Mozilla di Indonesia jumlahnya telah mencapai 3 juta lebih. Para Mozillian ini juga  telah melahirkan maskot Firefox kelima yang diberi nama Kumi dan pertama di dunia yang berbentuk papertoy.

Mozilla Firefox atau “Si Rubah Api” sebagai aplikasi perambah dunia maya mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pengguna internet. Sejak kemunculannya empat tahun lalu, aplikasi yang dapat diunduh secara gratis di mozilla.com kini banyak digunakan pengguna internet di seluruh penjuru dunia. Alhasil, kehadirannya mulai diperhitungkan oleh para pendahulunya seperti, Internet Explorer, dan Google.

Kehadiran Mozilla Firefox telah mengurangi dominasi Internet Explorer sebagai penguasa mesin pencari di internet. Mozilla Firefox sebagai perangkat lunak open source, kini memberikan warna baru di dunia browser di tanah air dengan menawarkan keterbukaan, inovasi, dan partisipasi para penggunanya. Di Indonesia sendiri, Mozilla Firefox mulai mendapatkan tempat istimewa bagi perambah dunia maya, bahkan para penggunanya sudah membentuk komunitas sendiri.

“Penetrasi pengguna Firefox di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami pertumbuhan yang signifikan. Browser besutan Mozilla ini sangat powerful dalam membantu setiap kegiatan dan aktivitas yang berhubungan dengan dunia maya. Fungsionalitasnya bisa diperluas dengan penambahan berbagai macam add-on, tema, plugin dan skrip. Terpenting platform ini sangat aman, terpecaya, dan cepat,” kata Viking Karwur Mozilla Representative Mentor.

Nah, semakin meningkatnya pengguna inilah  yang  menjadi latarbelakang  terbentuknya komunitas Mozilla Indonesia pada 2004 lalu. Tujuannya, sebagai jembatan berbagi informasi, dan interaksi sesama penggunanya. Tak mengherankan bila Mozilla Indonesia tidak memberlakukan keanggotaan secara khusus dalam berorganisasi. Pasalnya, siapa pun pengguna Firefox berkesempatan berkolaborasi dalam dalam setiap kegiatan komunitas, baik online maupun offline

Ini sesuai dengan visi dan misi dari Mozilla Foundation, sebagai organisasi nirlaba yang mendukung dan memimpin platform Firefox. Benang merah yang dibentangkan ke seluruh komunitas Mozilla Indonesia adalah kepercayaan bahwa internet adalah sumberdaya publik yang harus tetap terbuka dan diakses oleh semua orang.

“Jutaan orang di Indonesia menggunakan Firefox. Mereka inilah yang dianggap sebagai anggota komunitas Mozilla Indonesia,” jelas Yofie Setiawan, Mozilla Representative. Yofie juga bercerita pengalamannya bergabung ke komunitas Mozilla Indonesia dikarenakan memang telah lama memakai Firefox. Kemudian, baru bergabung dalam komunitas menimbang platform ini memiliki fitur-fitur yang tidak didapat dari platform browser lainnya.

Aktivitas komunitas Mozilla Indonesia tidak seperti  komunitas online kebanyakan yang kerap melakukan ‘kopi darat’ (kopdar), tetapi melakukan meet up dan launch party setiap Mozilla merilis versi terbaru. Biasanya, dengan mengundang seluruh pengguna platform browser ini. “Di sini mereka akan mendapatkan informasi mengenai aplikasi, bertemu dan berbagi satu sama lain,” tambahnya.

Aktivitas online yang dilakukan Mozilla Indonesia adalah menerjemahkan bahasa dengan melibatkan kreativitas para mozillians (pengguna Mozilla Firefox) secara aktif. Setelah rampung menerjemahkan dari bahasa Inggris ke Indonesia, saat ini Mozilla Indonesia sedang menyiapkan proyek untuk menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa daerah (Sunda). Kegiatan lainnya, Mozilla Indonesia membuat pesona Firefox, salah satunya membuat maskot Mozilla Indonesia yang disebut “Kumi” (Kumpulan Mozila Indonesia), dengan tampilan rubah api menggunakan pakaian khas penari kecak, Bali.

Maskot ini membawa misi tertentu yang cukup penting, salah satunya menjadi alat memasarkan dan mensosialisasikan penggunaan Firefox di Indonesia, sekaligus menjadi duta untuk mengenalkan Indonesia di tingkat dunia. Mozilla Indonesia, merupakan negara pertama di dunia yang membuat maskot dalam bentuk papertoy. Sejauh ini, baru ada lima maskot Firefox di dunia, yakni dari Amerika Serikat, Taiwan, Cina, Jepang, termasuk Indonesia. “Kami sedang mempersiapkan Kumi dengan baju daerah lainnya, sebagai upaya memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat dunia,” ungkap Viking.

Sedangkan kegiatan offline yang dilakukan Mozilla Indonesia, salah satunya launch party. Tahun ini, Mozilla Indonesia kembali melakukan Mozilla Firefox Launch  Party di delapan kota besar di Indonesia. Tujuh kota di antaranya masuk top ten penyelenggaraan terbesar dari kota-kota lain di dunia. Sebagai contoh, saat penyelenggaraan di Kota Yogyakarta. Panitia menargetkan jumlah peserta launch party sebanyak 500 orang. Ternyata, antusiasme pengguna dan komunitas Mozilla sangat luar biasa, hingga peserta mencapai lebih dari 700 orang.

Semua acara ini dapat dihadiri secara gratis, tanpa dipungut biaya. Yang harus dilakukan adalah melakukan reservasi di alamat  http://www.meetup.com/firefox/. Viking menambahkan, pemilihan tema Firefox Launch Party ini sedikit berbeda dengan Mozilla global yang mengusung “Team Firefox” karena lebih mengambil tema lokal, yakni “Browser Rakyat”. Tujuannya, menggambarkan betapa dekatnya Mozilla Firefox dengan masyarakat Indonesia. Apalagi, Indonesia merupakan negara terbesar kedua di Asia yang mengunduh Firefox dengan mengusai market share mencapai 80%. Tercatat, hingga saat ini jumlah pengunduh Firefox 4 telah mencapai 115 juta, sekitar 3 juta di antaranya berasal dari Indonesia.

Di masa mendatang, komunitas Mozilla Indonesia akan terus mengenalkan perangkat lunak yang dimiliki Mozilla. Sebab masih ada perangkat lunak lainnya yang belum dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas, seperti Mozilla Thunderbird, Mozilla Drumbeat, dan  Mozilla Web World yang kesemuanya gratis untuk diunduh. Termasuk juga mendatangkan tokoh-tokoh Mozilla yang kompeten dalam membantu pengembangan Mozilla Firefox di Indonesia.

Sebagai informasi, tahun 2010 komunitas Mozilla Indonesia berhasil mendatangkan Mitchell Baker selaku Chairperson Mozilla Foundation. Sedangkan tahun 2011, tokoh yang telah didatangkan ialah para engineer Firefox. Antara lain,  Gen Kanai (Contributor Engagement Team & Director of Asia Business Development), Luke Wagner (JS Engine Engineer), Christian Legnitto (Firefox Release Manager), David Anderson (JS Engine Engineer), David Mandalin (JS Engine Engineer), dan Joshua Aas (Macintosh Developer for Firefox). “Mozilla Indonesia, akan terus mendatangkan  tokoh-tokoh penting Mozilla dan berkompeten dalam pengembangannya,” tandas Yoffie.  (Majalah DIGITAL MARKETING/Moh. Agus Mahribi)

Kamis, 17 Mei 2012

Artav: Antivirus Besutan Anak Bangsa, Sudah Diunduh di 95 Negara

Semakin banyak antivirus diciptakan, salah satunya Artav Antivirus. Aplikasi lokal ini kabarnya memiliki kemampuan jauh lebih cepat dalam mendeteksi virus dan menghapus beragam virus lokal, aplikasi programnya pun lebih ringan sehingga tidak membebani kinerja komputer. 

Tak bisa dipungkiri komputer begitu bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari manusia. Keberadaan teknologi ini mampu membantu, mempermudah, dan mempercepat segala aktivitas dan pekerjaan banyak orang. Namun ironisnya, masih ada sebagian orang tidak memahami bagaimana menjaga dan mengamankan komputer mereka dari serangan virus. 


Nah, apa jadinya bila virus sudah bersemayam di komputer? Tentu akan membuat pusing dan kesal para pengguna komputer, sebab virus dapat menghilangkan data atau bahkan merusak perangkat lunak pada komputer. Itu pula yang dialami Arrival Dwi Sentosa, pencipta “Artav Antivirus”. Pasalnya, serangan virus telah merusak motherboard komputer kesayangannya, sehingga secara perlahan rusak dan mati total. 

Padahal saat itu Arrival sedang giat-giatnya membuat code game untuk dijual kepada teman-temannya. Rasa kesal dan pengalaman kurang menyenangkan inilah yang mendorong Arrival berinisiatif membuat Artav Antivirus. Dibantu kakaknya, Taufik Hidayat Utama, embrio Artav mulai dikembangkan dengan menggunakan komputer usang milik keluarga. “Artav Antivirus ini diambil dari gabungan nama kami berdua, Arrival-Taufik (Artav),” ungkap siswa kelas 2 SMP Negeri 48, Bandung, yang akrab disapa Ival.

Kemampuan Ival dalam membuat antivirus memang patut diacungi jempol, lantaran pengagum Bill Gates dan B.J. Habibie ini tidak pernah mengecap pendidikan formal ilmu komputer atau kursus programming. Istimewanya, hanya bermodalkan buku dan internet yang menjadi pedoman dan “guru pembimbing”, antivirus tersebut dapat dirampungkannya dalam kurun waktu tiga bulan. 

“Buku pertama yang kami miliki adalah Menjadi Dokter Virus dan selanjutnya kami belajar dari beberapa buku dengan dibantu forum diskusi online. Setelah Artav Antivirus siap, lalu dibagikan ke teman-teman untuk diuji coba. Pastinya, dipakai oleh kami karena memang tujuan pembuatan antivirus ini hanya untuk konsumsi sendiri,” kenang Ival. 

Namun, dalam perjalanannya, Artav Antivirus mendapatkan respons yang cukup baik dari masyarakat. Tak pernah diduga Ival, antivirus besutannya telah mengundang antusiasme para pengguna komputer dan pemerhati software. Buktinya, Artav Antivirus telah diaplikasikan oleh lebih dari 413 ribu orang, dan mendapatkan peringkat 4 ½ bintang hasil test editor Bst Download, termasuk penghargaan dari Softpedia.com sebagai antivirus 100% bebas dari malware, adware, dan spyware.

Meskipun Artav murni hasil kreativitas anak bangsa dan dikembangkan di Indonesia, antivirus berbasis visual basic ini cukup mumpuni dalam melawan virus lokal ataupun global. Faktanya, Artav sudah diunduh oleh para pengguna komputer di banyak negara di dunia. “Pengunduh Artav tersebar di 96 negara, sedangkan virus yang bisa dideteksi sekitar 1.500 virus dengan komposisi 65% virus lokal dan 35% virus global,” ungkap Ival.

Tampilan Artav bisa dikatakan masih sangat sederhana, tetapi soal performa, antivirus ini bisa diandalkan karena didukung oleh fitur-fitur dan data base virus yang terus terbarui. Sebut saja, “ART HybScan”, yaitu fitur terbaru pada Artav dengan system scan hybrid yang dapat membuat kecepatan, ketepatan, ketelitian, dan keakuratan pada scanning. Ditambah, “ART Lock” yang akan otomatis membuat folder di Drive C:\ Eksteksi Hidden dan berfungsi juga untuk menyimpan file virus yang dikarantina dari infeksi atau serangan virus.

Fitur lain yang cukup menarik adalah “Ads and Popoup Blocker”, yaitu fitur untuk menghapus atau memblokir ads (iklan) dan popup pada saat penguna sedang berselancar di dunia maya. Artav juga menawarkan “ART Repair”, berfungsi untuk memperbaiki registry, hidden file, dan process. Mengenai data yang rusak, para pengguna tak perlu khawatir, Artav menyiasatinya dengan “Repair Infected Document” untuk memperbaiki file document yang sudah terinfeksi oleh virus dan diubah ekstensinya. 

Sayangnya, kendati Artav terbilang cukup ampuh dan telah digunakan oleh banyak orang, penggunaannya masih bersifat nonkomersial. Untuk mendapatkan Artav Antivirus ini, pengguna bisa mengunduh di situs web Artav secara gratis, ataupun bila menginginkan fitur-fitur lebih pengguna bisa melakukan donasi guna mendapatkan Artav Premium, fasilitas standar dan Artav Advance dengan fasilitas maksimal. Hasil donasi ini digunakan untuk pengembangan Artav.

Seperti diakui Ival, sebenarnya tidak tertutup kemungkinan dalam pengembangannya Artav bekerja sama dengan pihak lain dan melibatkan investor. Rencananya pengelolaan Artav akan dikomersialkan secara profesional, sesuai cita-citanya untuk mempunyai perusahaan software IT. 

“Guna mewujudkannya kami terkendala oleh keterbatasan ilmu dan kondisi ekonomi, sehingga tidak mampu untuk ikut kursus atau belajar sesuai minat dan bakat, padahal kami sangat ingin dan bersemangat sekali membuat antivirus setingkat dunia agar dapat membantu dan bermanfaat bagi semua orang,” pungkas Ival. (Majalah DIGITAL MARKETING/Moh. Agus Mahribi)