Jumat, 04 April 2014

Kantong dari Singkong Siap Gantikan Plastik Belanja

Enviplast lahir dari banyaknya permasalahan kantong plastik, mulai dari kelangkaan bahan bakar fosil sebagai bahan baku sampai polusi plastik di alam. Produk bio-degradable berbahan singkong ini diharapkan jadi pengganti plastik belanja. 

http://atxjoni.blogspot.com 

Berdasarkan data yang dirilis Yahoo!News, Indonesia tercatat menghasilkan lebih dari 100 miliar kantong plastik setiap tahun. Jumlah ini sama dengan 12 juta barel minyak bumi, atau setara dengan nilai Rp11 triliun. Sampah kantong plastik menghabiskan waktu hingga ratusan tahun untuk dapat terurai dan telah membunuh hingga lebih dari 1 juta hewan laut per tahunnya. 

Melihat kenyataan ini, Inter Aneka Lestari Kimia—selaku produsen Aquaproof, sekaligus produsen plastik masterbatch dan compound untuk keperluan industri pengolahan plastik—mencoba menawarkan terobosan baru. Perusahaan ini merilis produk bio-degradable, yakni kantong berbahan alami yang dapat diperbarui, pengganti kantong plastik yang berbasis minyak bumi, seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP). Produk ini diberi merek “Enviplast”. 

Bahan utamanya terbuat dari bahan-bahan alami yang dapat diperbarui, seperti tepung singkong (pati) dan turunan minyak nabati. Hal ini menjadikan Enviplast ramah lingkungan, aman bagi pertumbuhan tanaman, dan tidak berbahaya bagi hewan, baik di daratan maupun di dalam air. “Kandungan bahan alami sekitar 40% tepung singkong, turunan minyak nabati plus bahan alami lainnya. Tapi, akan terus ditingkatkan hingga mencapai 60%,” kata Herman Moeliana, Director PT Inter Aneka Lestari Kimia. 

Enviplast tampak seperti plastik, tetapi sama sekali bukan plastik. Jadi, meski bisa terdegradasi dalam waktu singkat dari 3 hingga 6 bulan—dibandingkan dengan plastik dari bahan baku berbasis minyak bumi yang membutuhkan waktu hingga ratusan tahun. Dalam urusan kekuatan kapasitas beban, Enviplast masih kalah dengan kekuatan plastik pada umumnya. 

Enviplast sebetulnya bukan inovasi baru bagi Aneka Lestari Kimia. Pasalnya, penelitian dan pengembangan produk bio-degradable ini sudah dimulai sejak tahun 2006 dan diperkenalkan pertama kali pada tahun 2011 dalam bentuk kantong sampah ramah lingkungan di Sea Games, Palembang. Sayangnya konsumen kurang responsif terhadap produk ini. 

Harga produksi yang mencapai dua kali lipat dari biaya produksi plastik menjadi salah satu alasan Enviplast belum sepenuhnya diterima di pasaran sampai saat ini. Padahal produk ini merupakan satu-satunya di dunia, dan mampu menjadi ikon produk Indonesia di dunia bila permintaannya meningkat dan mampu merangsek pasar global. 

Faktor lain yang diprediksi membuat permintaan melonjak adalah adanya pengesahan Peraturan Pemda DKI Jakarta No.3/2013 mengenai pengelolaan sampah. Perda ini mencakup denda Rp5 juta–Rp25 juta bagi pengelola pusat perbelanjaan yang tidak menggunakan kantong belanja ramah lingkungan. Berkaitan dengan sampah plastik, belum banyak orang yang sadar ataupun peduli akan dampak buruk yang ditimbulkan bagi lingkungan. Padahal sebagian besar sampah kantong plastik berasal dari kegiatan jual-beli masyarakat. 


“Adanya sanksi ini diharapkan masalah sampah kantong plastik di Indonesia, khususnya di Jakarta, bisa ditekan. Kami optimistis di masa mendatang akan semakin banyak konsumen, baik korporasi maupun individu, yang menggunakan Enviplast. Pabrik kami memiliki kapasitas produksi terpasang sekitar 3.000–5.000 ton per tahun, namun produksi saat ini masih sekitar 2.000 ton per tahun,” terang dia. 


Enviplast dapat diaplikasikan sebagai bahan yang mirip dari fungsi plastik, seperti kantong belanja, kantong binatu, celemek masak, hingga pembungkus peralatan elektronik, pembungkus suku cadang dan aksesori otomotif, dengan menyasar pasar B2B. Namun, target utama dari Aneka Lestari Kimia bukanlah menjual produk tersebut, melainkan memproduksi dan menjual bahan baku atau biji resinnya. 

“Tujuan kami membuat produk mirip dari fungsi plastik adalah mengedukasi pasar. Bila tingkat kepedulian konsumen dan permintaan sudah meningkat, pabrik-pabrik pengolahan plastik bisa membeli biji resinnya. Kalau perlu mesin-mesin pengolahannya bisa diperoleh dari kami, sebab ada sedikit perbedaan antara mesin pengolahan plastik biasa dan Enviplast,” jelas dia. 

Herman tidak memungkiri bahwasanya tidak mudah meyakinkan perusahaan untuk mau memanfaatkan Enviplast, yang harganya lebih mahal dari harga kantong plastik biasa dan belum dikenal pasar. Jadi, beragam edukasi pun terus dilakukan guna membangun kesadaran konsumen. Salah satunya melalui program public relations ataupun pameran. 

Adapun beberapa pameran yang pernah diikuti adalah Asian Packaging Conference on Green Packaging Revolution di Jakarta yang diselenggarakan oleh Indonesian Packaging Federation (IPF). Program ini bertujuan mengedukasi seluruh perusahaan mengenai kemasan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. 

Kemudian, ada juga pameran internasional “Eco Products” di Tokyo Big Sight, Jepang, yang diselenggarakan Japan Environmental Management Association for Industry (JEMAI). “Komunikasi edukasi kepada masyarakat ditekankan pada proses produksi dan produk akhir serta limbah Enviplast yang dapat melindungi dan menyelamatkan lingkungan dan bumi,” pungkas Herman. 

Kondisi tersebut tak membuat Herman patah arang. Ia lebih optimistis bahwa Enviplast akan diterima konsumen karena dalam beberapa tahun ke depan harganya akan setara dengan kantong plastik, lantaran minyak bumi semakin langka dan sulit didapat. Apalagi Enviplast memang diproyeksikan sebagai jawaban atas permasalahan harga bahan baku plastik dari minyak bumi yang cenderung naik dan semakin mahal. 


(Moh. Agus Mahribi/Majalah MARKETING Edisi April 2014)

Kamis, 03 April 2014

Pelopor Abon Khusus Bayi


Berbekal keinginan agar bermanfaat bagi orang banyak, Oktavia Hasim sukses memanfaatkan potensi daerah dan masyarakat lokal dalam mengembangkan bisnis abon bayi yang digeluti.

“Jangan mencoba untuk menjadi orang yang sukses, lebih baik mencoba untuk menjadi orang yang berguna” Kata-kata bijak dari Albert Einstein yang tertera di laman website Abon My Baby, bisa jadi ini yang menginspirasi Oktavia Hasim dalam meraih sukses dibisnis kuliner dan menjadi produsen abon bayi pertama di Indonesia.

Perempuan asal Probolinggo ini menceritakan, usaha tersebut dimulai dengan coba-coba dan kenekatan. Pasalnya, meski tidak memiliki pengalaman berbisnis dan pandai memasak ia tetap bertekad menekuni usaha di bidang kuliner. “Di daerah saya banyak budi budidaya ikan lele. Potensi besar inilah menginspirasi saya untuk mengembangkan pengolahan ikan lele agar memilliki nilai tambah,” ujar dia.

Menggunakan bahan baku yang banyak dan murah itu, Oktavia terus bereksperimen menjadikan beberapa penganan, termasuk abon ikan lele. Berbagai cara dilakukan untuk mencari racikan bumbu dan proses pengolahan abon lele, baik dari buku resep ataupun internet yang kemudian dimodifikasi untuk menghasilkan abon yang pas.

Ternyata, abon ikan lele yang dihasilkan bertekstur lembut, sehingga bisa dikonsumsi oleh balita delapan bulan ke atas. Dari sinilah akhirnya jadi abon My Baby, merek abon yang diproduksi Oktavia, dengan modal pertama sebesar Rp5,2 juta. “Pemilihan nama My Baby, supaya konsumen lebih mudah mengenal dan mengingat. Bisnis ini makin serius saya geluti dengan mendirikan perusahaan bernama Pradipta Jaya Food pada 8 Maret 2011,” imbuhnya.

Pertimbangan Oktavia untuk fokus di kuliner khusus bayi karena lebih mudah dari segi penjualannya. Lantaran setiap ibu pasti akan mencoba memberikan makanan yang bergizi tinggi untuk balitanya. Berapapun uang yang dibutuhkan, mereka akan rela merogoh koceknya, tapi tentunya mereka akan berhati-hati dalam memilih makanan bagi buah hati mereka, bukan berupa makanan siap saji yang mengandung bahan kimia, tetapi makan bayi yang benar-benar terbuat dari bahan alami dan bergizi.

“Berbisnis di bidang usaha makanan bayi memang lebih rentan, lebih sensitif, dan benar-benar harus hati-hati. Abon My Baby tidak menggunakan minyak, non MSG dan rendah lemak. Saya hanya memakai bahan alami, seperti ikan, bawang, garam dan gula,” ujar pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2013 pada kelompok pascasarjana dan alumni di kategori boga.

http://abonmybaby.blogspot.com/
Keunggulan abon My Baby, bukan hanya menggunakan bahan alami, tetapi juga memiliki kadar protein yang cukup tinggi dari hasil pengujian laboratorium Universitas Brawijaya, Malang. Komposisi nutrisi dan gizi yang terkandung dalam abon My Baby sekitar 48,9% karbohidrat, lemak 20%, dan sisanya protein. 

Seperti cerita sukses lainnya yang diwarnai kegagalan. Hal ini juga yang terjadi pada Oktavia. Pasalnya, respon pertama masyarakat terhadap abon My Baby tidak seperti yang diharapkannya, tidak banyak orang yang mau membeli abon yang diproduksinya. Maklum, belum banyak yang mengenal kegunaan dan manfaatnya, apalagi dengan kemasan ala kadarnya, sehingga di tahun pertama ia mengalami kerugian.

Kondisi ini tidak membuat Oktavia putus asa, kerugian yang diderita malahan melecut dirinya untuk lebih berusaha lagi dalam meningkatkan penjualan. Abon My Baby pun terus ditawarkan ke tetangga disekitar tempat tinggalnya maupun ke beberapa toko di daerah Probolinggo. Berkat kegigihan dan upayanya mengganti kemasan dari plastik ke almunium foil serta dikemas dalam kardus seperti kardus susu bayi, lamban laun abon My Baby semakin dikenal luas.

“Setelah ganti kemasan, termasuk seringnya pengenalan melalui berbagai pameran dan media online, frekuensi permintaannya semakin meningkat. Melonjaknya permintaan saya iringi dengan penambahan varian rasa abon My Baby, seperti ikan patin, sapi, ayam, ikan salmon dan dalam waktu dekat kita luncurkan varian sayur-sayuran (vegetarian). Harganya berkisar Rp 25.000 – Rp 50.000 per kemasan isi 50 gram,” beber Oktavia.

Tak hanya kebanjiran permintaan konsumen, tetapi banyak juga masyarakat yang tertarik bergabung untuk memasarkan dan meraih untung dari bisnis abon My Baby. Melihat respon masyarakat yang bagus, dia pun mempersiapkan berbagai hal untuk skema kemitraan. Bentuknya ada retailer dengan minimal pembelian 2 lusin, agen minimal pembelian 4 lusin, dan distributor minimal pembelian 20 lusin.

Tentu saja keberhasilan tersebut buah dari upaya strategi pemasaran yang diterapkan, baik dari pemasaran secara online melalui www.abonmybaby.com dan media sosial, termasuk perluasan jaringan distributor. Saat ini abon My Baby sudah merangsek ke ritel-ritel moderen, seperti Carrefour, Hokky, Cikko dan minimarket yang tersebar di Surabaya, Malang, Probolingo, Blitar, Tulungagung dan Kediri. “Saat ini Penjualan abon My Baby menyentuh angka Rp110 juta per bulan,” ungkap dia. 

Sukses mengusai pasar Jawa Timur tak lantas membuat Oktavia berpuas diri. Target jangka panjang pun telah dicanangkan, agar abon My Baby bisa dipasarkan di seluruh toko bayi dan ritel moderen di Tanah Air, seperti produk susu bayi saat ini yang mudah ditemukan. Langkah awal diharapkan distribusi abon My Baby sudah mencapai seluruh Jawa dan Bali pada tahun 2015.

Guna mewujudkan impiannya, beberapa perluasan dan pengembangan bisnis pun sudah dipersiapkan untuk meningkatkan kualitas produk meliputi bahan baku yang terfilter, proses yang berstandard, dan pasar yang tersistem pasti dengan jaringan distribusi yang memiliki rasa nyaman dan aman.

http://abonmybaby.blogspot.com/

Sebagai pebisnis, Oktavia tidak hanya memikirkan keuntungan sendiri. Ia berharap bisnis yang dikelolanya dapat memberikan dampak sosial bagi lingkungannya. Hampir semua tenaga kerja yang dimiliki berasal dari lingkungan usahanya. “Saya berharap bisa mensejahterakan masyarakat sekitar dan abon My Baby dapat dinikmati oleh setiap orang dan manfaatnya dapat berguna bagi orang banyak,” pungkas dia. 

(Moh. Agus Mahribi/Majalah MARKETING Edisi April 2014)

Raih Mimpi Lewat Ponsel


Columbia bercita-cita mewujudkan setiap impian masyarakat Indonesia melalui aplikasi Shoot Your Dream. Berhasilkah upaya mereka? 

Mungkin banyak di antara kita tertarik akan suatu barang dan memimpikan untuk memilikinya. Padahal, di saat yang sama kita tidak punya uang tunai ataupun mengetahui tempat membeli barang tersebut. Tak usah bingung untuk mewujudkan itu, Anda hanya perlu mengambil ponsel pintar untuk memfoto produk yang diinginkan dan mengunggahnya di aplikasi “Shoot Your Dream”.

Aplikasi kredit mobile besutan Columbia ini memang diciptakan untuk membantu konsumen memperoleh dan membeli secara kredit barang yang mereka impikan, baik berupa alat elektronik, perabotan rumah tangga, gadget, sampai produk fashion dan barang-barang hobi, seperti sepeda ataupun motor. Cakupannya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga regional. 

“Aplikasi ini merupakan belanja online secara kredit dengan biaya cicilan ringan dan kompetitif. Bedanya dengan e-commerce lain, mereka menyiapkan dan menawarkan produk yang sudah ada dan mau dijual kepada konsumen. Tapi, Shoot Your Dream mengembalikan kepada konsumen produk yang mereka inginkan, dan kami akan menyediakan. Kami bisa melayani barang-barang tertentu dari luar negeri,” jelas Darwin Leo, COO Columbia.

Keberadaan aplikasi ini terlahir dari ide Darwin sendiri, kala memperingati perayaan ulang tahun Columbia yang ke-30 tahun dan pemberitaan CNN yang menyebutkan populasi Indonesia yang mencapai 250 juta orang dan didominasi oleh usia di bawah 30 tahun. “Berdasarkan data demografi ini, saya mencoba melakukan inovasi layanan yang mampu mengakomodir kebutuhan dan keinginan segmen muda yang notabene dekat dengan dunia internet,” ujar dia.

Implementasinya, Columbia yang berpengalaman di bidang pembiayaan konsumen, berupaya menggabungkan antara bisnis online dan offline agar bisa diterima segmen muda. Adanya aplikasi ini Columbia menunjukkan diri tidak hanya sebagai perusahaan brick and mortar (B&M), namun juga perusahaan inovatif terdepan yang mampu berinteraksi dengan konsumen digital. 

Columbia optimistis aplikasi ini dapat mengambil bagian dalam potensi pasar e-commerce Indonesia dan membantu konsumen yang tidak dapat membeli secara tunai produk impian mereka. Pendapatan dari transaksinya diharapkan berkontribusi sekitar 10%–20% dari total net revenue perusahaan, yang saat ini telah mencapai Rp1,3 triliun. “Tahap awal, aplikasi ini ditargetkan dapat menarik 300–500 konsumen per hari,” sebut Darwin. 

Penggunaannya juga sangat mudah, konsumen terlebih dahulu mengunduh aplikasi di Google Play, BlackBerry App World, ataupun situs www.shootyourdream.com. Setelah itu, pengguna mengunggah foto atau gambar produk yang diinginkan, lalu menunggu respons dan pemberitahuan jika produk tersedia serta proses lainnya, dan kemudian memilih rentang waktu cicilan yang diinginkan. 

Persyaratan lain yang diperlukan adalah KTP, bukti kepemilikan rumah yang bisa berupa PBB, tagihan listrik ataupun telepon, tanpa perlu jaminan seperti bank atau kartu kredit. “Produk yang dibeli minimal seharga Rp1,5 juta dan bisa memilih tenor cicilan mulai dari 3 bulan hingga 24 bulan. Tidak ada batasan maksimal harga pembelian produk, selama itu memungkinkan akan kami layani,” beber Darwin. 

Maksimal lima aplikasi produk bisa diajukan dalam skema kredit lewat Shoot Your Dream. Mengenai pembayaran, pelanggan dapat melakukan transfer ke beberapa bank yang bermitra, kantor pos, ataupun cabang-cabang Columbia. Rencana ke depan, ada penjajakan kerja sama dengan perbankan untuk kartu kredit. 

Di sini Columbia tidak menawarkan katalog barang yang dijual, karena memang konsepnya adalah “palugada” (apa lu mau gue ada) dengan mencoba menjual segala macam barang yang konsumen cari dengan harga tafsiran mereka berikan. “Ketika pengguna mengunggah foto produk yang diinginkan, mereka bisa memberikan spesifikasi, alamat toko, ataupun harga kisarannya. Nanti kami akan mencarikan produk yang sesuai,” papar dia. 

Untuk menarik konsumen, setiap hari Columbia melakukan kegiatan promosi dan kompetisi bulanan. Setelah pengajuan aplikasi, Dreamshooter—sebutan untuk para pengguna aplikasi Shoot Your Dream—dapat mengikuti kompetisi foto di Fanpage Facebook dengan satu pemenang setiap bulannya untuk mendapatkan produk impian mereka secara cuma-cuma. 

Kehadiran aplikasi Shoot Your Dream merupakan langkah awal bagi strategi e-commerce Columbia. Tentunya berbekal pengalaman panjang melayani lebih dari 8 juta rumah tangga di seluruh Indonesia, Columbia bertekad akan terus mengembangkan beragam layanan yang berbasis digital. (Moh. Agus Mahribi/Majalah MARKETING)

Sukses dengan Kaskus, Sang Pendiri Garap Pasar Anak

Bisnis toko online peralatan dan perlengkapan bayi terus menjamur. Salah satunya adalah Tororo. Apakah situs ini akan meraih sukses di tengah persaingan yang cukup ketat?

Setelah sukses menjadikan Kaskus sebagai forum diskusi dan jual-beli terbesar di Indonesia, Ken Dean Lawadinata sang pendiri situs kini mencoba peruntungan di bisnis toko online dengan merilis Tororo.com. Secara khusus situs tersebut menjual perlengkapan dan kebutuhan bayi seperti susu, perlengkapan makan, popok, tempat tidur, dan aksesori.

“Tororo berasal dari bahasa Jepang yang artinya ubi. Seperti diketahui, ubi merupakan kebutuhan pangan atau makanan yang mudah diolah, bergizi, dan mengenyangkan, serta terjangkau sehingga bisa dinikmati oleh setiap orang. Sama seperti kebutuhan anak, pastinya para orangtua akan mencari yang benar-benar sesuai kebutuhan, tanpa mengabaikan kemampuan finansial mereka. Di sinilah Tororo mencoba memenuhi kebutuhan tersebut,” kata Ken.

Ide mengembangkan Tororo memang berasal dari pengalaman Ken sebagai orangtua dan banyak orangtua lainnya dalam mencari kebutuhan si kecil yang tergolong sulit dan relatif mahal. Apalagi masalah terbesar dari masyarakat kita untuk mendapatkan kebutuhan anak adalah produk berkualitas dengan harga terjangkau dan aksesibilitas ke penyedia produk.

Kondisi ini tentu memaksa para orangtua untuk membeli kebutuhan buah hati mereka dengan harga lebih tinggi. Akhirnya mereka mengorbankan dana yang bisa disimpan untuk kebutuhan lain agar mendapatkan kenyamanan dalam memperoleh produk yang diinginkan. Padahal, kenyamanan itu tidak perlu mahal.

“Tujuan jangka panjang Tororo tidak hanya penjualan, namun diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas dan standar hidup keluarga dengan memberikan akses ke berbagai macam produk berharga terjangkau. Sehingga para orangtua dapat mengelola uang dengan baik, menghemat dari apa yang seharusnya bisa mereka hemat,” jelas dia. 

Guna mewujudkan cita-cita mulia tersebut, Ken terus berupaya mencari barang-barang yang paling dibutuhkan konsumen, bekerja sama dengan supplier berkualitas dan menekan harga serendah mungkin agar masyarakat di Indonesia mendapatkan harga yang paling baik juga ragam pilihan. Sampai saat ini produk yang tersedia sekitar 10.000 stock keeping unit (SKU). 

“Bila situs-situs toko online yang sudah ada saat ini berfokus pada fashion, alat-alat tambahan, dan barang mewah lain, Tororo lebih fokus ke produk-produk pokok kebutuhan bayi seperti susu bubuk dan popok. Harga barang di Tororo lebih murah sekitar 15% dari toko online lainnya, ditambah ongkos kirim yang hanya Rp5.000 untuk sekali pengiriman di Jakarta,” ujar dia. 

Soal segmen yang dibidik, Tororo menyasar kelas menengah-bawah, khususnya para ibu yang bekerja, karena mereka tidak memiliki waktu, sibuk mencari penghasilan buat keluarga, namun harus menjaga anak-anaknya dan mengelola keuangan dengan baik. Jadi, disediakan produk bagi kebutuhan ibu dari awal kehamilan dan pasca melahirkan serta kebutuhan anak usia 0–5 tahun. 

“Produk kami bukan hanya dibeli oleh segmen menengah-bawah yang menjadi target utama. Kenyataannya ada sejumlah konsumen kelas menengah-atas juga, bahkan beberapa artis terkenal pun turut membeli dari Tororo. Alasannya sederhana, mereka mencari kemudahan dan kenyamanan untuk mendapatkan kebutuhannya,” beber Ken.

Dunia pemasaran sangat tidak lengkap dan akan sangat sulit meraih kesuksesan tanpa adanya sebuah strategi promosi yang baik. Semakin menarik promosi di mata konsumen, semakin besar pula kemungkinan menang melawan kompetitor. Jadi, tak salah bila banyak pelaku usaha rela menggelontorkan dana besar dalam kegiatan promosi.

Sedikit berbeda pandangan, Ken lebih meyakini tidak memerlukan dana promosi berlimpah dalam membangun merek Tororo. Sebagai bisnis online, Tororo tidak banyak melakukan promosi iklan media massa, bahkan tidak memanfaatkan interactive media, seperti website ataupun media sosial. 

Hal tersebut didasari oleh pengalaman Ken ketika membesarkan Kaskus yang tidak pernah melakukan promosi dan kampanye ataupun mengalokasikan dana untuk beriklan. Begitu pula dengan Tororo, karena ia percaya bujet marketing dan kampanye bukan merupakan kunci untuk mencapai traffic tinggi.

“Saya percaya bahwa produk dan layanan, baik dari sisi kualitas, harga, kemudahan, dan kenyamanan dengan sendirinya akan menjadi promosi. Hasil yang diharapkan word of mouth dapat menular ke semua orang. Meski strategi ini tidak bisa diprediksi dan terkesan lambat, ini sudah saya terapkan di Kaskus dan mampu menarik 20 juta pengguna per bulan,” ungkap dia.

Apa yang disampaikan ada benarnya, sebab strategi ini juga cukup ampuh diterapkan di Tororo. Ini dibuktikan dengan jumlah pengunjung unik Tororo yang mencapai 2.000 per hari. Bahkan dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, situs ini mampu menghasilkan penjualan sekitar Rp2 miliar dengan rata-rata pembelian Rp420 ribu per orang per transaksi.

Kendati dapat diterima konsumen, Ken mengaku mengelola bisnis toko online cukup sulit bila dibandingkan forum diskusi dan lapak jual-beli, seperti Kaskus. Pasalnya, situs forum hanya memberikan jasa layanan sehingga mudah diterapkan pada konsumen secara nasional. Sedangkan toko online mengandalkan produk sebagai jualannya dan sering terkendala dalam pendistribusian secara nasional karena masalah geografis dan infrastruktur.

Tengok saja masalah biaya kirim. Ilustrasinya, biaya kirim produk popok seharga Rp70.000 ke luar kota bisa mencapai Rp20.000. Tentu saja sudah tidak masuk akal karena ongkos kirimnya hampir 30% dari harga produk. Guna menekan ongkos kirim ini, Tororo terus melakukan upaya kerja sama dengan penyedia jasa pengiriman dan rencananya akan membangun gudang di beberapa daerah agar lebih dekat dalam pengiriman.

Ken berharap, Tororo dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh Indonesia. Target pasar yang dikejar toko online ini sebenarnya bukan masyarakat Jakarta, tetapi daerah-daerah di luarnya. “Yang paling membutuhkan produk terjangkau dan berkualitas adalah masyarakat daerah di tengah keterbatasan pilihan. Ironisnya, masyarakat daerah yang memiliki penghasilan lebih rendah dan lebih membutuhkan, pilihannya dibatasi dan harganya jauh lebih mahal,” pungkas Ken. (Moh.Agus Mahribi/Majalah MARKETING)





Rabu, 27 November 2013

Kian Bersinar Bersama Bintang Iklan

3Second menyadari pentingnya peran endorser dalam meningkatkan ekuitas merek. Tak tanggung-tanggung, beberapa musisi papan atas telah dipilih. Siapa saja mereka dan bagaimana hasilnya?

Selebriti masih menjadi penggerak utama dalam melambungkan merek suatu produk. Cermati saja Ariel Noah, apa pun yang dipakai pria ini pastilah booming. Alhasil, banyak pemilik merek mencoba merangkul publik figur ini.

3Second mungkin menjadi salah satu merek yang beruntung menggunakan jasa pemilik nama lengkap Nazril Irham ini sebagai bintang iklan (endorser) sekaligus duta merek (brand ambassador) untuk salah satu mereknya, yakni Greenlight.

Bukan tanpa perjudian 3Second memilih Ariel sebagai endorser. Pasalnya, selain memiliki karya yang fenomenal, Ariel pun memiliki sisi lain kehidupan yang sempat menjadi highlight di berbagai media dan menimbulkan kontroversi. Hal inilah yang memosisikan sosok Ariel seperti pedang bermata dua; dapat menjadi brand equity builder ataupun brand equity killer.

“Ariel yang sempat vakum di blantika musik Tanah Air membuat kerinduan tersendiri bagi para penggemarnya. Di sinilah kami melihat popularitasnya belum menurun, apalagi Ariel memiliki kredibilitas dan daya tarik tersendiri. Gaya dia yang cool dan misterius menancapkan banyak kesan pada penggemarnya. Ini sesuai kriteria yang kami inginkan. Tantangannya meski sang endorser dinilai negatif oleh sebagian orang, merek kami harus tumbuh positif,” kata Hendri Sase, Head of Marketing 3Second.

Bentuk kerja sama yang dilakukan dengan Ariel bukan hanya dari nilai bisnis, tetapi lebih pada pendekatan personal kepada sang selebriti untuk mendapatkan pengalaman dan kenyamanan dalam menggunakan produk. Selain kenyamanan, kemudahan juga diberikan 3Second dengan banyaknya gerai penjualan di hampir setiap kota besar di Indonesia. Ini membantu sang selebriti akan suplai produk dalam mendukung performa ketika konser, termasuk menyediakan desain khusus buat mereka.

Perjudian besar yang dilakukan berbuah manis. Sejak di-endorse Ariel, pertumbuhan merek Greenlight bergerak pesat, baik dari sisi image maupun awareness. Yang terpenting tingkat kepercayaan konsumen semakin tinggi dan pada akhirnya berujung pada peningkatan penjualan. “Setelah menggandeng Ariel pada Juni 2012 lalu, penjualan merek Greenlight bertumbuh sekitar 25% dibanding periode sebelumnya,” ungkap Hendri.

Belajar dari kesuksesan inilah 3Second kembali mencomot musisi papan atas lainnya, yakni Narova Morina Sinaga, atau yang lebih dikenal publik sebagai Momo Geisha, untuk merek 3Second Ladies3Second merupakan produk uni sex. Sedangkan endorser pria dipilih Raffi Ahmad, presenter kondang yang natural dan atraktif. Tak hanya selebriti lokal, musisi asing asal Inggris, We Start Partys, pun berhasil digaet untuk membantu pemasaran.

Sebenarnya popularitas 3Second cukup kuat di kategori fashion pria, namun di kategori produk wanita masih kedodoran. “Penunjukan Momo Geisha sangatlah tepat karena dekat dengan kehidupan remaja, terutama kaum hawa. Untuk endorser asing, strategi ini merupakan pembuktian bahwa produk dalam negeri mulai diminati oleh band asing ataupun konsumen mancanegara,” jelas dia.

Selain Greenlight dan 3Second, masih ada merek lain yang menjadi andalan produsen pakaian asal Bandung ini, seperti Famo, yang karib dengan gaya Uki Noah, baik di atas panggung ataupun di luar panggung. Satu lagi Moutley, pakaian yang desainnya mengacu pada budaya jalanan (street culture) yang digemari pencinta skateboard dan musik indie rock. Pemilihan endorser-nya pun disesuaikan dengan segmen pasar, yaitu Rosemary band yang mengusung genre indie punk. Adanya para endorser ini diharapkan dapat berkontribusi besar terhadap pertumbuhan perusahaan yang ditargetkan sebesar 30% per tahun.

Tak hanya terikat kerja sama dalam menggunakan produk atau pembuatan iklan, para endorser berkewajiban menjadi bagian dari perusahaan dengan mempromosikan merek-merek 3Second di media sosial ataupun website mereka, serta melakukan kunjungan ke gerai-gerai. “Dalam setahun para endorser melakukan kunjungan ke gerai sebanyak enam kali. Baik peresmian gerai baru maupun jumpa fans di sana,” ujar Hendri.

Keberhasilan membangun merek tak hanya bergantung pada endorser. Dibutuhkan pula kualitas produk dan jaringan pemasaran yang mumpuni. Apalagi para selebriti membuat merek semakin dikenal luas. Antisipasi telah dilakukan 3Second dengan mempersiapkan titik pemasaran yang tersebar di berbagai kota, terdiri dari 80 showroom, 20 street shop, dan 150 counter. Kemudian, sejak tahun 2007 telah dipersiapkan website korporat www.3second-clothing.com yang tahun lalu telah bertransformasi menjadi kanal pemasaran online dengan omzet sekitar Rp200 juta per bulan.

Produk yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari kaos, celana, jaket, sepatu, tas, sandal, dan sebagainya, dengan jumlah rata-rata desain sekitar 240 varian  per bulan. Dan 3Second mampu memproduksi sekitar 2 juta potong per tahun. “Ide desainnya didapat dari tim desain yang melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mencari tren fashion di sana. Setelah terkumpul, ide-ide tersebut akan diadopsi sesuai pasar Indonesia. Komposisi produknya 60% untuk pria dan 40% untuk wanita, sedangkan penjualan masih didominasi oleh produk pria sekitar 70%,” ungkap Hendri.

Soal promosi, pada setiap konser Noah dan Geisha dibagikan brosur yang bisa ditukarkan dengan diskon di stan 3Second. Selain berpromosi, 3Second juga merangkul komunitas untuk lebih mendekatkan diri dengan mengadakan kegiatan-kegiatan, seperti kompetisi skateboard dan musik. Kegiatan yang sedang berjalan saat ini adalah kompetisi menyanyi mirip Ariel dan Momo Geisha yang rencananya akan digelar di enam kota besar. Tahap awal audisi dan penyisihan dilakukan di Kota Bandung. Khusus grand final, Ariel dan Momo Geisha akan menjadi juri.  

Pemenang di setiap kota berhak mendapatkan uang tunai, makan malam, dan jalan-jalan bersama si artis. “Setiap peserta diwajibkan menyanyikan lagu dari kedua musisi tersebut. Kami juga sedang mempersiapkan hadiah spektakuler, mungkin pemenang utama berkesempatan berkolaborasi dengan Ariel lewat lagu ciptaannya. Tujuannya supaya sosok Ariel yang fenomenal identik dengan merek Greenlight,” sebut Hendri.(Majalah MARKETING/Moh. Agus Mahribi)

Terbang ke Luar Negeri dengan Replika Pesawat

Marison mampu menciptakan karya yang memesona para pencinta replika pesawat. Bahkan produknya telah diburu oleh konsumen mancanegara. Bukan hanya itu, hasil karyanya menjadi “tambang emas” dan membawanya berkesempatan mengunjungi berbagai negara.


www.108jakarta.com 

Berawal dari sekadar hobi terkadang melatarbelakangi kesuksesan seseorang dalam membangun bisnis. Apalagi hobi yang digeluti bisa menghasilkan sebuah produk atau barang yang mempunyai nilai jual tinggi, terlebih tidak semua orang bisa melakukan karena dibutuhkan ide brilian dan kreativitas di dalam proses produksinya. Kisah itu pun terjadi pada Marison yang meraup ratusan juta rupiah dari hobi membuat replika pesawat terbang. 

Inspirasi membuat replika pesawat memang sudah tertanam di benak Marison sejak kecil. Kegemaran mengamati “si burung besi” yang melintas di Bandara Halim Perdana Kusuma dekat rumah tinggalnya diimplementasikan dengan membuat replika pesawat dari kayu bekas gagang sapu. “Ide dan model replika pesawat yang dibuat berasal dari mengamati pesawat yang melintas. Replika pesawat yang dihasilkan akan dipakai bermain sendiri atau dijual ke teman sekolah,” kenang Marison. 

Kecintaan dan rasa ingin tahu mengenai pesawat terbang, khususnya replika pesawat, terus terbawa hingga dewasa. Guna mengasah kemampuan dan keterampilannya, Marison bergabung dengan sebuah perusahaan replika pesawat. Di situlah dia mendapat informasi tentang jenis bahan dan ukuran, serta cara membuat dan merakit replika pesawat, sekaligus mempelajari potensi pasarnya, baik jenis replika pesawat komersial, pesawat tempur, helikopter, sampai pesawat ruang angkasa.

Setelah memiliki pengetahuan dan bekal yang cukup, akhirnya Marison memutuskan terjun langsung ke bisnis replikasi pesawat bersama dua rekan kerjanya sesama penghobi, pada tahun 1992. Namun, krisis ekonomi—tepatnya pada tahun 1999—membuat Marison harus melenggang sendiri lantaran kedua rekannya memilih untuk fokus di bidang lain. Apalagi di saat krisis ekonomi, usahanya tidak mendapatkan pesanan dan tidak melakukan penjualan selama enam bulan.

Tak patah arang, Marison pun terus bertahan dan berkarya membesarkan Anglo Indonesia Aircraft Models, merek replika pesawat yang diusungnya. Berkat ketekunan dan kerja keras serta bantuan dari istrinya, Nurhayati, kini usaha Marison berbuah hasil. Produk replika pesawatnya sudah diminati banyak konsumen. Tak hanya dipasarkan di dalam negeri, produk-produk Anglo sudah merambah ke pasar mancanegara, seperti Hong Kong, Jepang Filipina, Dubai, Australia, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. 

Mengamati replika pesawat Anglo, mungkin kebanyakan orang sepakat bahwa untuk membuat replika pesawat dibutuhkan keterampilan dan kreativitas yang tinggi hingga mempunyai nilai seni tersendiri. Betapa tidak, selain tingkat kesulitan cukup tinggi, diperlukan juga ketekunan dan kesabaran. “Semua konsep sudah matang di kepala, namun dalam realisasinya tak mudah karena membutuhkan pekerja (perajin) yang memiliki selera dan nilai seni yang tinggi. Bisnis replika pesawat itu unik, pengerjaannya harus mengikuti keinginan hati untuk menciptakan kepuasan dari hasil kerja sendiri, tetapi menyesuaikan minat konsumen,” ujar Marison. 

Berbicara soal target pasar, Nurhayati mengatakan bahwa peminat replika pesawat bukan hanya pengoleksi individu. Malahan porsi terbesar berasal dari maskapai penerbangan yang sering memanfaatkannya untuk suvenir atau pajangan. Alhasil, segmen yang fokus dibidik Anglo adalah pasar korporat (B2B), khususnya maskapai asing. Apalagi penjualan saat ini masih didominasi oleh pasar luar negeri dengan komposisi sebesar 70% dan pasar lokal sebesar 30%. “Untuk pasar global, kami belum menggunakan merek sendiri dan masih menggandeng agen atau broker di negara terkait,” imbuh dia.

Bukan tanpa alasan Anglo lebih menyasar pasar global. Ini lantaran harga produk replika pesawat yang dihasilkan terbilang tinggi, sehingga tidak cocok dengan pasar dalam negeri. Wajar bila ini terjadi, karena proses produksi yang dilakukan hampir 100% menggunakan tangan secara manual (hand made) yang notabene memiliki tingkat kesulitan tinggi. Selain itu, dibutuhkan ketelitian serta proses produksi panjang guna menghasilkan replika pesawat yang berkualitas. 

“Maskapai lokal cenderung memilih replika pesawat hasil pabrikan luar negeri seperti Cina yang proses hand made-nya hanya sekitar 10%, sekaligus memiliki harga lebih murah. Berbeda dengan maskapai asing yang lebih menyukai produk hand made. Etihad Airlines pernah mengundang kami terbang ke Abu Dhabi untuk melihat langsung replika pesawat Anglo. Meski harga 3–4 kali dari replika pesawat asal Cina, Etihad lebih percaya untuk bekerja sama dengan Anglo,” terang Marison.

Normalnya, ukuran replika pesawat yang ditawarkan Anglo mulai dari 15 cm sampai 16 m dengan harga untuk pasar lokal mulai dari Rp100.000 per unit, sedangkan untuk pasar ekspor harga minimum dipatok sebesar Rp400.000 per unit. Harga untuk pemesanan khusus bisa mencapai sekitar Rp200 juta, bahkan saat ini Anglo sedang mengikuti tender pengadaan untuk sebuah maskapai asing seharga Rp800 juta per unit dengan nilai proyek di atas Rp2 miliar.

Mengenai agresivitas pemasaran, Nurhayati mengakui pihaknya sejauh ini lebih banyak menerima pesanan ketimbang melakukan pemasaran secara langsung. Hal ini terjadi karena keterbatasan kapasitas produksi, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan konsumen. “Penjualan Anglo masih berkisaran 60–70 unit per bulan dengan total nominal rata-rata mencapai Rp150 juta. Permintaan saat ini saja belum bisa terpenuhi semua, apalagi untuk setiap pemesanan, rata-rata konsumen harus inden selama enam bulan,” papar Nurhayati. 

Lantaran tidak terlalu agresif, strategi promosi yang dilakukan Anglo hanya terfokus di ranah BTL dengan mengikuti kegiatan yang sesuai dengan target segmen pasarnya, seperti pameran Inacraft. Tentu kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran merek Anglo di bisnis replika pesawat. (Majalah MARKETING/Moh. Agus Mahribi)

“Kaldu Ayam” yang Diminati Pencinta Fashion Sampai Selebriti


Merek Brodo, sepintas seperti nama sebuah merek asal Italia. Tapi, siapa sangka nama yang disematkan pada produk sepatu pria ini merupakan merek lokal yang dibuat di Cibadayut. Kini penjualannya rata-rata mencapai 2.000 pasang sepatu setiap bulan. Bagaimana kisah sukses membangun merek Brodo?



Sering kali kita temukan entrepreneur yang sukses membangun bisnis dari hobi. Begitu pula dengan Muhammad Yukka Harlanda yang gemar mengoleksi sepatu. Pengalaman kesulitan mendapatkan sepatu kulit ukuran yang diinginkan, belum lagi harga yang relatif mahal, memberinya ide untuk membuat sepatu sendiri.

Tak berhenti di situ, bak oasis di tengah sahara, pengalaman tersebut menginspirasi Yukka untuk mengembangkan kreativitasnya menjadi bisnis sepatu khusus kaum adam. Bermodal sebesar Rp7 juta hasil patungan bersama rekan bisnisnya Putera Dwi Karunia, mereka menyambangi perajin sepatu di Cibaduyut, Bandung, yang terkenal sebagai sentra sepatu murah.

“Kami memulai bisnis sepatu sejak tahun 2010 lalu. Pemikirannya sederhana, kalau membuat sepatu dengan desain dan merek sendiri, kemungkinannya dapat dijual dengan harga yang lebih terjangkau,” kata pria yang saat memulai bisnis masih kuliah di Institut Teknologi Bandung, jurusan Teknik Sipil.

Dari modal tersebut, diperoleh 40 pasang sepatu dengan empat desain yang referensinya didapat dari internet. Kemudian, produk mulai dipasarkan kepada orang-orang terdekat, mulai dari teman, sanak saudara, bahkan orangtua sendiri, dengan merek dagang Brodo. Meski sebenarnya penyematan merek sama sekali tidak ada kaitannya dengan produk yang dihasilkan.

“Pemberian nama Brodo terbilang konyol, karena idenya diambil dari adegan memasak sebuah komik. Kata ‘brodo’ yang dalam bahasa Italia berarti kaldu ayam, merupakan bumbu dasar dari beberapa masakan Italia. Prinsipnya, jika brodo-nya tidak enak, makanan yang dihasilkan pun tidak enak. Begitu juga dengan sepatu Brodo, bila berbusana sepatunya tidak bagus, maka ke atasnya tidak bagus pula,” terang Yukka.

Seperti kebanyakan cerita sukses lainnya, Brodo tidak langsung mudah diterima konsumen. Yukka masih sangat ingat ketika mereknya sulit terjual, bahkan di bulan pertama saja hanya terjual empat pasang. Namun, ketika mencoba menawarkan desain sepatu tersebut melalui jejaring sosial, hasilnya ternyata di luar dugaan. Banyak konsumen yang tertarik dan memesan sepatu ini.

“Sepatu Brodo dibanderol dengan harga Rp195.000 sampai Rp595.000. Segmen yang dibidik Brodo di rentang usia yang cukup lebar, antara 18–40 tahun dari kalangan kelas menengah yang menyukai produk-produk berkualitas guna memenuhi gaya hidup dan fashion mereka,” ungkap Yukka.

Fokus di Online 
Ketika memulai bisnis, Yukka melakukan segala aktivitas pemasaran baik offline maupun online untuk meningkatkan brand awareness Brodo. Namun, seiring berjalannya waktu ia pun memilih untuk fokus di ranah online. “Tahap awal memasarkan, kami berupaya memasukkan produk-produk Brodo ke seluruh distro di Indonesia, maupun department store untuk menggenjot brand awareness dengan mempromosikan ke pemilik distro ataupun mengikuti kegiatan pameran di kota-kota besar di Indonesia,” papar dia.

Sayang, meski akhirnya Brodo sukses memajang produk-produk tersebut di gerai distro dan department store, hasilnya tidak memuaskan seperti yang diharapkan. Hal ini lantaran pertumbuhan penjualannya tidak signifikan dibandingkan penjualan online melalui website dan Facebook. Secara jumlah penjualan offline memang lebih tinggi dibandingkan online; sebaliknya dari segi profit, pemasaran online masih jauh lebih bagus ketimbang pemasaran offline.

“Saat ini pemasaran online berkontribusi besar sekitar 90% dari total penjualan. Konsumen dapat membeli setiap produk Brodo di www.bro.do yang domainnya dibeli dari Republik Dominika, sedangkan untuk media sosial konsumen dapat mengunjungi Facebook: brodobrodo,” sebut Yukka.

Pertimbangan lain untuk fokus ke online, karena melihat produk-produk Brodo sudah mulai ditiru, mulai dari desain sampai merek. Untuk memudahkan konsumen membedakan produk yang asli dan palsu, Brodo hanya menjual di toko online dan gerainya sendiri. “Di sini kami lebih mengeksklusifkan distribusi pemasarannya. Rata-rata penjualan Brodo mencapai 2.000 pasang per bulan,” tambah dia.

Kinclong-nya penjualan Brodo memang tak terlepas dari dua prinsip yang diusung selama ini. Pertama, great design, yaitu setiap desain sepatu yang dihasilkan harus terkesan simpel dan unik, sekaligus terjangkau dengan kualitas dan detail yang menarik. Jumlah sepatu yang ditawarkan sudah beragam jenisnya seperti Signore, Vintage, Fontana, Uno, dan Alpha dengan outsole yang menarik berupa motif nusantara ataupun batik parang.

Kemudian, kedua, great service dengan memberikan layanan yang mampu menjamin kepuasan konsumen. Tak banyak pelaku bisnis online yang berani seperti Brodo memberikan layanan penukaran sepatu secara gratis jika ukuran tidak sesuai, walaupun sudah dipakai. Layanan lainnya, Brodo memiliki layanan servis jika sepatu rusak.

Sandhy Sondoro dan Glenn Fredly Ikut Memasarkan
Celebrity endorser dipandang memiliki keunggulan atraktif yang membedakannya dari individu lain dan mampu memengaruhi konsumen untuk menggunakan produk yang dipakainya, dan identik dengan merek itu sendiri. Ini pula yang dilakukan Yukka. Tanpa pengetahuan mengenai aturan brand endorser, dengan percaya diri ia mencoba merangkul musisi papan atas, Sandhy Sondoro dan Glenn Fredly untuk turut memasarkan produknya.

“Kerja samanya sederhana, tanpa kontrak eksklusif. Artinya selama Sandhy Sondoro mau menggunakan produk-produk Brodo, kita akan memberikan kepadanya. Ketika melihat Sandhy Sondoro menggunakan sepatu Brodo,  siapa sangka, ternyata Glenn Fredly pun tertarik menggunakan sepatu ini,” jelas dia.

Soal aktivitas pemasaran yang akan dilakukan dalam waktu terdekat, Yukka mengatakan akan memanfaatkan para celebrity endorser untuk menampilkan performa mereka di suatu panggung, tetapi penonton yang datang harus menggunakan sepatu Brodo ataupun produk lainnya. Selain itu, rencana mendatang akan dibuat video koleksi khusus Sandhy Sondoro dengan produk Brodo. Pasalnya, selain sepatu, Brodo juga sudah melebarkan sayap bisnis ke produk dompet, tas, dan pakaian khusus pria, karena adanya permintaan dari konsumen. (Majalah MARKETING/Moh. Agus Mahribi)